Kitab-kitab menutup sampul
tatkan terpengaruh sumpahku
yang memujamu menyeluruh
Matahari
di mana mulutku kaulah ratuku
'ngumandang desis lirih namamu.
Charlotte.
26 Juli 2010 / Sabtu
Nymph Child adalah anak peri. Maka NymphChild adalah rumah mungil dari 'anak peri'. Lesbian adalah termasuk wanita yang suci bagai anak-anak peri. Anggun dan menghiasi kosmos. Blog dari facebook perkumpulan Republik Rakyat Perempuan LBT.
mereka bermaksud memasung orientasi seksualku
dan tunduk menelan pelir yang bukan harapku
kata doktrin antara pelir dan vulva itu lurus
mereka mau mereparasi hidup berkelokku
dan katanya aku dosa penuh kutuk kalau tak mau
bilakah agama beriku surga karnaku patuhi norma
maka ku pinta bidadari kelak
bilakah neraka julurkan lidahnya bakar jiwa
sebab kekagumanku akan wanita tat tercerabut di hadapan ratus ribu pria
13 Juli 2010/ Senin
RhR
Si bungsu terjaga dari lelap
Yang gelap dan sunyi
Aku ingat sewaktu penis pria itu mendesak masuk
Aku ingat sewaktu jari wanita itu berjuang menusuk
Jangkrik dan mengerik
Aku memang tak pantas membawa kelas mana
Aku hanya anak gadis yang memuja wanita
Dan nyanyi-nyanyi sekonyong terhenti
Namun persentuhan kelaminku dengan kelamin wanita
Adalah berasa paling sakral antara keduanya
Juga kesucian hymenku menjadi milik wanitaku
1 Juli 2010/Kamis 11.23 pm
RhR

Semalam engkau singgah dalam buah tidurku
Senyum itu menghias bibirmu
Kasar itu terbawa suaramu
Kurang ajar itu terpancar dari matamu
Daya itu ada di tubuhmu
15 Okt 2004/Jumat 11 pm
"Christopher, apakah tidak mungkin kita kembali seperti dahulu?"
"Melosa, kita sudah tidak bisa seperti dulu. Saat ini engkau mempunyai kehidupan baru begitu pula aku," ujar Christopher. "Perlu engkau ketahui, Christopher, bahwa aku mencintaimu sejak SD. Benarkah kita tidak mungkin kembali seperti semula, seperti tiga tahun lalu?" tanya Melosa. "Biarkanlah Tuhan mengatur waktunya."
Deg. Mengapatah takdir dan nasib sekongkol menolak kisahku? Mengapa aku tidak mampu meraihmu?
"Kristian," panggil Melosa. "Ya, ceritakanlah dengan tuntas tentang cowok masa lalumu itu," pinta Kristian simpati ketika melihat kawannya yang kacau untuk memulai bercerita.
"Melosa, apakah kau buta bercintakan lelaki itu? Ingat, Melosa, kau bakal mendapat reaksi keras dari keluargamu. Dia bukan lelaki yang pantas untukmu. Carilah lelaki yang sederajat."
Suara-suara penolakan yang dahulu itu kembali menyerang kesadarannya. Paru-parunya mendesak minta oksigen, cuma menciptakan sesak yang dulu-dulu pula. Amboi sakitnya, Tuhan.
"Lelaki itu, aku menyukainya sejak SD. Tiga tahun lalu kami pacaran. Setiap saat banyak ucapan menyakitkan menerpa hubungan kami. Akhirnya untuk meredam suasana, aku terpaksa berkata bahwa kami sudah putus dan sialnya aku belum memberi tahu Christopher. Justru dia tahu dari orang lain. Dia marah dan kecewa. Aku memang tolol."
"Kenapa kalian tidak direstui?" sela Kristian bingung.
"Wajar saja, kami tidak sederajat. Keluarganya kacau mirip gypsy. Faktor itu yang menyebabkan orang lain berpikir dia memanfaatkanku. Kami pun berbeda keyakinan.
Menurutku dia lelaki yang baik. Dia rela keluar sekolah untuk bekerja membiayai saudaranya. Tidak mengapa, kan, aku membantunya memberi ini-itu, meminjami itu-ini, sebab bukan saja ku pandang dia kekasih sepenanggungan, tapi lebih kepada hubungan kemanusiaan pula."
"Inikah yang berhari-hari engkau sembunyikan dariku dan Deborah?" geleng Kristian. "Benar. Aku tidak ada waktu menjelaskannya. Seharusnya hari ini aku menceritakan dengan gembira pada kalian, sayangnya…"
Aneh, air mataku tidak mengalir lagi.
"Ada apa? Bisa kamu menghubunginya?" tanya Kristian. "Bisa. Aku mendengar suaranya," gumam Melosa menerawang. "Maukah lelaki itu berjumpa lagi denganmu?" lanjut Kristian. "Ya, dia mau," sahut Melosa pendek. "Nah, engkau sudah tahu apartmentnya, bukan? Kami berdua akan mengantarkanmu kalau perlu."
"Awalnya ku pikir begitu," balas Melosa mulai tersedu. "Dia baru saja menjatuhkan palu. Kami sudah tak mungkin bersama. Kami masing-masing punya kehidupan baru. Dia lebih memilih bersahabat. Mengapa keadaannya berbalik begini? Aku sungguh tak berdaya. Apakah kini yang harus ku pegang, padahal pengharapanku ialah menyambung tali kasih? Nampak bagai raga hendak kehilangan hayat," keluh Melosa.
"Hentikan ucapanmu! Kau seperti gadis tolol. Gadis yang aku kenal itu kawanku yang suka tersenyum dan membuat orang lain tersenyum. Dia selalu menguatkan orang yang malang.
Dengarlah! Engkau penengah antara aku dan Deborah apa bila kami berselisih. Satu-satunya kawan yang tulus mendukung hubungan kami yaitu kamu. Aku bersyukur dianugrahi teman sepertimu di tengah dunia kacau balau ini.
Kau ini wanita, kau pandai. Guru-guru memujimu karena engkau murid istimewa. Kau boleh sedih, itu hakmu, namun jangan lama. Kau masih pelajar. Apa bila studimu telah tamat, laki-lakilah yang akan datang meminangmu, kau pun mendapat restu ."
"Sebenarnya kau membela siapa?" potong Melosa keras. "Bukan membela siapa atau siapa salah. Tapi rasionallah," bujuk Kristian. "Kristian, aku mencintai Christopher! Dia cintaku!"
"Aku tahu begitu kuat pengharapanmu. Sekarang bayangkan kau di posisinya. Keluarganya merendahkanmu, memandang sebelah mata, semua tidak memantaskanmu, bagai mana perasaanmu?"
"Tentu sakit. Dendam. Aku akan mencoba membuktikan pada semua orang bahwa aku tidak seperti yang mereka pikir."
"Itulah perasaannya. Mungkin saja lelaki itu merasa perlu membuktikan harga dirinya dengan giat bekerja, umpama dia mencintaimu. Kamu harus membuktikan tanggung jawabmu sebagai pelajar dulu, umpama kau juga mencintainya. Aku tahu karena aku pernah mengalami hal serupa dan aku juga seorang lelaki.
Ingat Melosa, aku dan Deborah sangat mencintaimu, kami banyak hutang budi padamu. Kami ingin kau medapat kebahagiaan pula, sebab kau sahabat kami. Aku bersedia membantumu. Jika aku tahu appartmentnya atau tempat kerjanya, aku akan mendatanginya dengan Deborah."
Aku lebih bersyukur lagi umpama kau Christopher Lincoln.
Melosa tersenyum. Demikianlah perasaannya menjadi tenang. Dia memang sedih, dan akan ditundanya di rumah, bukan di sekolah. Akan dipikirnya tenang-tenang sehabis tandas rasa sedihnya.
Aku jauh lebih bersyukur mengingat mempunyai sahabat-sahabat yang baik.
"Sungguh aku tidak suka setiap kali kami berpapasan denganmu di koridor, kau selalu muram. Begitu membaik, tersenyumlah kembali dengan keceriaanmu. Pelan-pelan tak apa-apa, kalau tidak sama sekali, aku akan sangat marah. Deborah tak akan berkawan lagi denganmu."
Melosa tersenyum simpul.
"Kristian, aku pikir kau benar. Jika aku berniat memperjuangkan cintaku, aku bukannya harus menangis dan terpuruk dalam kejatuhanku terus menerus. Tapi aku harus bangkit memperjuangkan dengan rasional dan tegar. Memang wanita itu perlu menangis bila sedih dan juga tetap harus bangkit memikirkan solusinya."
"Nah, itu baru namanya Melosa. Sudah ada gambaran mengenai rencanamu selanjutnya?" Kristian tersenyum senang pula. "O, belum. Akan ku pikir sesudah menghabiskan masa shock ini dulu di rumah. Pastinya aku ingin menjalin persahabatan dengannya. Sewaktu agak tenang tadi, aku mengingat ucapannya, dia menyuruhku menjalani dulu. Membiarkan Tuhan mengatur waktunya."
Bel panjang Dwyer School berkumandang.
"Belantara New York saja luas, masa keadaan tidak bisa berganti. Presiden kita saja sudah terpilih," gurau Melosa. Kristian tertawa renyah. "Well, salam untuk Deborah. Aku dengar perutnya sakit dan dia minta ijin. Kau akan mengantarkannya, bukan?"
"Yeah, gara-gara saus sandwich beef-nya," gerutu Kristian.
"Kadaluarsa?" gurau Melosa. Kristian menyeringai. "Eh, besok, kalau seumpamanya, lho," tahan Melosa. "Kenapa?" kata Kristian. "Ya, siapa tahu kau dan Deborah akan menikah dan aku dengan Kitto berjodoh, kalian mau jadi saksi bila kelak kami kawin lari?" bisik Melosa. "Pasti," tawa Krsitian, "anak-anak kalian akan jadi sahabat karib anak-anak kami."
"Engkau pantas mendapatkan Deborah. Okay, sampai jumpa besok pagi! Daag!"
"Daag!"
Kitto = nama panggilan kesayangan untuk Christopher
20-11-2008, Kamis
: to Hera Petrina
leburlah aku pada ragamu
satukanlah aku pada jiwamu
biarkanlah aku tetap padamu
oh, pahlawanku heroku
ku ucap terima kasih pada engkau
oh, kakakku terkasih
setubuhilah pikiranku hatiku perasaanku
dengan sifat-sifatmu
17 Okt 2004/ Minggu
Ribuan kali kau baca aku, ratusan pula kau undang aku dalam mimpi. Sekarang kau malah sibuk berpikir dalam bingungmu. Atau malah tenggelam dalam fantasimu?
Ini aku, kau tahu? Tokoh yang kau cumbui dalam buku di sela waktumu. Ya, inilah aku yang kau cumbui di dalam pikirmu sebelum kau tidur. Ini aku, si tokoh yang mati tragis, mati muda. Tapi kau tahu aku senang mati muda. Hanya saja kenapa tiba-tiba kau bangunkan aku dari tidur panjangku? Ini aku!
Ayo! Kini aku tegak menjulang pada dua bola matamu. Meski masih samar dan abstrak, aku sebentar lagi akan kuat. Lihat garis-garis yang semakin tampak padaku. Sudahlah, cepat tarik kesimpulan! Apa yang menjadi rencanamu? Jangan hanya bengong karena aku sudah semakin kuat.
Biar aku terka. Mungkin akan kau hancur lumatkan tubuhku begitu sempurnaku datang. Bisa jadi kau kini akan mengajak aku secara terang-terangan menggauli malam? O, anak kecil yang genit kau. Tak inginkah engkau menerkamku seperti malam-malam kau memimpikanku? Engkau buas. Lacur kecil penggoda. Membuat aku lapar ingin merasakan wujudmu seutuhnya.
Dasar setan kecil! Kenapa kau masih sibuk seperti tadi? Mematung bagai batu di ujung bukit percintaanku dalam buku. Mau kau aku kutuk jadi batu? Tidak, bukan? Ayolah, ini aku kawan, tokoh dalam cerita.Yang menangis bagai gerimis Bharatayudha yang berteriak menikam kalbu yang hangat pada malammu. Yang sirna musna dalam ajalku. Ah, tapi bukankah kau berhasil membangunkan aku?
Aku tahu, hujan di luar sana masih sama, tapi apa mau kau bengong, sementara aku secara pasti akan menguat hampir menjelma? Orang lalu lalang masih tetap, namun waktu tak menunggumu. Sedetik kau terlambat ambil putusan, jatuhlah kau pada lubang kematianmu. Benar kau tak mau bereaksi? Bodoh. Masih tak yakin aku benar-benar tokoh itu?
Satu, aku buka seluruh kainku. Dua, ku lucuti piyamamu. Tiga, tunggu waktu.
(Lalu tokoh kecil kita bingung karena tak menyangka usahanya akan terwujud. Hanya itu saja tak bisa lebih. Lalu untuk urusan tetek bengek tentang mau apa rencananya, dia tak bisa berpikir. Belum sempat. Dia menggeleng.)
Yah, tahu-tahu tubuhnya sudah dihisap. Dilahap.
Kini kita telah senyawa, menyatu, dan aku telah jelma. Akulah nyata yang baru saja menghisapmu. Malangnya kau ku jadikan tumbal. Cih, tak sempat aku menahkodai tubuhmu. Tak sampai merasaimu dan dirasai, sebab kita sudah lebur jadi satu. Satu kesatuan yang tak bisa diuraikan. Aku tubuhmu kamu tubuhku. Tubuh yang satu nyawa satu napas. Ah, bukankah itu enak, kawan kecilku?
Lalu sekarang akan apa? Berdiam saja di sini sampai jadi sekerat batu berlumut lalu lapuk? Oya, aku tahu, aku ajak saja kau kembali dalam buku. Kita akan abadi dalam lembaran kitab lontar. Sebagai sebuah cinta yang penuh kegaiban. Tidak mengapakan kau aku ajak?
UUUNNGGG….
"Perhatian! Pasien bangsal psikiarti nomor sekian tewas! Perhatian!"
Suara dari microfon meraung. Dokter Araida berlari menuju kamar di mana pasien istimewanya rawat inap. Penuh kejut dilihatnya sebuah buku terbuka di lantai, pada bagian cinta platonis. Itu adalah buku kesayangan si pasien.
Mei, 2007
Renungan semasa kabur. Pembangunan suasana terinspirasi dari Harry Potter and The Chamber of Secret, Olenka, Soe Hok Gie Catatan Harian Seorang Demonstran, Garis Tepi Seorang Lesbian, serta kutukan dalam Roro Jonggrang dan Malin Kundang. Ternyata telah difilmkan atau dibukukan seorang ayah yang dapat memanggil tokoh dalam buku (diperankan oleh aktor The Mummy) hingga anaknya kerepotan (membaca resensi tahun 2008 atau 2009).
PESAWAT UNTUK REVEL
"Ingin membeli apa, Tuan?" tanya pelayan toko dengan ramah. Aku baru saja tiba di ambang pintu toko. Aku balas dengan senyum ramah. Apa karena aku tampak lusuh dan kebetulan bawa uang banyak lantas mereka ramah? Ah, tak baik mencurigai orang yang ramah.
"Saya ingin mencari mainan untuk seseorang sebagai oleh-oleh," kataku. "Oya, kami punya banyak koleksi.Untuk siapa?" tanya pelayan sambil membimbingku. "Saya mencari.. sebuah mainan untuk.. teman saya," jawabku setengah berpikir. "Lelaki?" tanya pelayan. "Perempuan," jawabku. "Mari ke rak cewek!" ajak pelayan. "Eh, teman saya tidak begitu suka mainan cewek," cegahku.
Namun sebelum sempat si pelayan bersuara, papa dan anaknya memotong.
"Papa, aku ingin pesawat!" rengek anak. "Mainan saja yang kau pikir!" bentak papa.
Aku kasihan. Tapi tiba-tiba aku ingat sesuatu.
"Eh, saya ingin cari pesawat saja!" seruku. "Pesawat?" gumam pelayan heran, seolah aku bilang aku lupa bawa uang. "Ya, teman saya suka mainan seperti itu. Bisa tolong tunjukkan tempatya?" pintaku. "O, ya, ya, lewat sini!" gagap pelayan.
Aku dibawanya ke tikungan rak. Ada banyak pesawat yang dipajang. Jadi bingung sendiri. Mungkin lebih baik aku borong semua? Huh, bagai mana caraku membawanya? Terus bagai mana nasib anak-anak yang ingin membelinya? Bisa-bisa aku ditangkap polisi sebab membuat anak orang menangis. Jadi, yang mana?
Rupanya pelayan tahu aku kebingungan. "Coba yang ini dan ini dan ini lalu itu!"
Pelayan menunjukkan pesawat di sudut rak. Berceloteh tentang keunggulan masing-masing. Merah, jenis pesawat capung, yang putih besar jenis pesawat penumpang, biru pesawat tempur, dan pink pesawat remote control.
Pusing. Aku harus memilih atau tidak sama sekali.
Pesawat capung warnanya merah. Revel sedang terkena sindrom merah. Tidak bisa berjalan, tapi dapat berubah bentuk menjadi robot bila ditekan tombol remotnya. Pesawat penumpang hanya untuk pajangan. Bentuknya besar. Dari kacanya, kita dapat melihat miniatur orang-orang beraktifitas, layaknya di dalam kabin. Pesawat tempur terlalu kecil. Revel tengah mual-mual dengan warna itu. Warna Kakak Heranya. Pink bagus, bentuknya sedang, memakai remot control lagi. Namun Revel benci warna pink. Mengingatkan pada kenangan pahit dengan Kakak Heranya. Apa solusinya?
Seakan waktu terbang membawaku terbengong-bengong selama berjam-jam. Si pelayan tampaknya mulai kurang suka terhadapku. Jengkel. Merasa dipermainkankah dia? Heh, pembeli adalah raja, bukan? Tapi kalau tiba-tiba aku tak jadi membeli? Mahalkah harganya? Aku bukan Revel yang punya banyak uang. Aku ini penulis pengangguran, luntang-lantung. Terlalu miskin aku.
Revel beruang, akan tetapi satu yang tidak ia miliki. Cinta kasih. Perasaan mendapat cinta kasih. Ia selalu merasa tak ada yang memberinya cinta kasih. Orang tuanya dibunuh. Saudara tuanya dibunuh. Anak korban diskriminasi. Anak yang terpaksa pergi dari singgasananya demi menghindari para pembunuh bayaran. Pembunuh bayaran kiriman para pendendam dan pengincar harta.
Stop! Dilarang keluar jalur merah. Aku harus segera memilih untuk Revel. Supaya pelayan itu tidak semakin kesal. Putih? Merah. Biru? Pink. Mana? Mana?
Sekonyong-konyong pesawat capung diambil kakek untuk cucunya. Bagai tersadar dari antah aku menoleh ke arah pelayan. Pelayan sudah luar biasa jengkel. Tapi toh ditahannya. "Bagai mana? Sudah ketemu?" tanya pelayan. "E, ya, baru saja say…"
Selanjutnya pesawat tempur diambil papa untuk anaknya. Pesawat penumpang untuk putranya dari mamanya, tinggal pesawat pink, yang pada akhirnya diambil paman-bibi untuk ponakan.
"Bagai mana, Tuan?" getaran itu terasa di ujung bibir pelayan. Sial! Kenapa tidak kamu bentak saja aku? Lebih baik aku beli sepasang sayap saja. Agar Revel dapat terbang mencari Soledad atau Hera. Bisa jadi dapat pulang balik Sonxdaez tanpa ketahuan. Bahkan ia dapat pergi menemui kekasih jiwanya.
Mungkin pula ia membubung ke angkasa, meninggalkan dunianya, sakitnya, laranya, dukanya, dan biar ia menari berdendang, menyempurnakan mimpinya.
Biar ia merauk kasih, mereguk dan meminum sepuasnya. Biar ia tak sedih, tak susah, tak duka, tak tekan, tak letih, dan yang terpenting ia dapat tersenyum. Senyum Revel manis. O iya!!! Sayap!!!
"Saya ingin sepasang sayap. Adakah Anda jual?" tanyaku. "Sayap?" cengang pelayan melebihi marah di ubun-ubun batok kepala. "Ya, sepasang sayap," ulangku. "Sin-ting!!"
They're not gonna get us
Not gonna get us!
Starting from here, let's make a promise
You and me, let's just be honest
We're gonna run, nothing can stop us
Even the night that falls all around us
Soon there will be laughter and voices
Beyond the clouds over the mountains
We'll run away on roads that are empty
Lights from the airfield shining upon you
Nothing can stop us, not now, I love you
We'll run away, keep everything simple
Night will come down, our guardian angel
We rush ahead, the crossroads are empty
Our spirits rise, they're not gonna get us
My love for you, always forever
Just you and me, all else is nothing
Not going back, not going back there
They don't understand,
They don't understand us
Translete :
Tiada yang dapat menemukan kita
Mereka tidak mampu menemukan kita
Tidak dapat menemukan kita
Dimulai dari sini marilah kita berjanji
Kamu dan aku saling jujur
Malam menjemput dengan salju mengitari kita
Akan segera tiba suara tawa dan teriakan
Bersama awan di antara pegunungan
Kita akan berlarian di jalanan yang sepi
Cahaya lampu dari langit menerpa dirimu
Tiada yang mampu menghentikan kita, tak kan ada
Sekarang aku mencintaimu
Kita akan berlari jauh membuat segalanya mudah
Kita berlari dan tak kan ada yang mampu menghentikan kita
Malam akan segera tiba, malaikat penjaga kami
Kita berjalan cepat, jalanan terasa sepi
Semangat kita muncul, mereka tidak mampu menangkap kita
Cintaku padamu, kekal abadi
Hanya kamu dan aku, yang lainnya bukan siapa-siapa
Tak kan kembali, tak kan kembali ke sana
Mereka tidak mengerti
Mereka tidak mengerti kita
Arti :
Sewaktu kita mengambil jalan ini (menjadi lines), maka semua orang tak mampu menghentikan keyakinan kita ini. Aku mengajakmu berjanji untuk saling jujur dan marilah kita bersama-sama berjalan di jalan ini (lines) dengan perasaan riang, meski semua orang mendiskriminasikan kita. Kita berdua akan pergi jauh dari sini dan segala rintangan akan hancur. Kita akan menghadapinya bersama-sama, sebab sekarang aku berani mengakui di depan umum jika aku mencintaimu. Semangat kita muncul saat malaikat menjaga kita menghadapi tuntutan masyarakat. Lupakan yang lainnya dan segalanya, di sini, di jalur ini, hanya ada engkau dan aku, dan kita tidak akan kembali menjadi heterosexual. Walau mereka tak memahami kita, namun cintaku abadi untukmu.