Senin, 25 Oktober 2010

Kitab dan Matahari

to : Queen Charlotte

Kitab-kitab menutup sampul
tatkan terpengaruh sumpahku
yang memujamu menyeluruh
hati.
Matahari
malas mencatat waktuku
di mana mulutku kaulah ratuku
'ngumandang desis lirih namamu.
Charlotte.

26 Juli 2010 / Sabtu

Antivirus

to : dokter Keyz

Ya, dokter
sarankan saya tuk dapatkan antivirus
buat yang lurus, yang hakimi lesbian
memvonis bagai penyebar virus.
kerna L tipe darahku. mendarah kental di jaringan
dibanding saya mengiris mereka layaknya kedaver.

21 Februari 2010 / Minggu

Wanita Yang Tak Minta Tugu

sahabatku, adindaku,
: bunda yang tak minta pengakuan
slamanya ku anggap bunda

20 Februari 2010 / Selasa

( tanpa judul )

Jangan kau tanya mengapa bisa
Beginilah aku adanya
Bahwa kelamin tak membatasi orientasi seksual
Tanyakan pada wanita dan pria di sebrang
Dapatkah ditipu orientasi seksualnya
Begitu pula aku yang bervulva
Kemudian orientasiku ada pada wanita
Maka jangan suruh aku menipu diri dalam lemari

7 Juli 2010 / Rabu

Sabtu, 23 Oktober 2010

Perayaan IDAHO Jogja 2010 (2)

Di antara denyarnya mayoritas
Kami bersepeda keliling pinggir-paseban
Untuk satu malam dalam tahunan
Persaudaraan kami masuk minoritas paling lemah
Cuma, kami ada dan tercipta

7 Juli 2010 / Rabu

Perayaan IDAHO Jogja 2010 (1)

Cuma sebungkus nasi kebebasan
yang kami bagi pada para kawula

Murahkah kau senyum, Jatmika?

Tapi di tanahmu, mereka tumpas kami
para lesbi banci terusir layaknya kudis

Barisan se-atas mata kaki menggusur
bubarkan grak pada spanduk alun-alun

Murahkah, kau senyum, Sinuhun?

Atau salah pabila kami berkumpul di paseban
sebentar bersama sesap udara
di bumi Tuhan
yang susah kami dapat
di malam-malam sebelumnya

7 Juli 2010 ? Rabu

Membahas Pernikahan

Ada yang musti berpisah antar dua wanita
Satnya terpaksa menikah dengan pria
Lainnya disepak dipandang sampah
Dua-duanya sama tersuksa.

Ada yang seumur hidup menerawang
Sembunyikan diri di almari pakaian
Terisak saksikan ribuan wanita lalu lalang
Dia tersiksa berselibat.

Ada yang hidup bersama
Pernikahannya dilegalkan luar ranah bundanya
Pasangan lain pilih kumpul seatap
Mereka menghadapi cibiran.

Beginilah masalah dunia kami
Pernikahan itu suatu maha pelik
Kebersamaan terkadang ditebus pedih perih
Atau luka bau anyir.

Ada pun dunia kalian
Cerai, kawin lagi, selingkuh
Suatu hal yang rumit.

1 Juli 2010 / Rabu

Tanpa Diskriminan

Aku wanita engkau wanita
Kami perempuan kalian perempuan
Jangan kasih kami lidah ber-hujat
Kerna kami adalah manusia
S'perti mereka

1 Juli 2010 / Kamis 11.35 pm

: Kla Project

nikmati wajah yang ayu
dalam pelukan desakan emosi
dibuai iri disayangi dengki
menolak bermacam eros pancangkan hati
teguh nikmati wajah nan ayu
warisan ningrat berabad kerajaan

17 Juli 2010 / Sabtu

Bahwa Bayangmu Dalam Tulisku

puluhan nawalapatra dikandung sejarah
ditandai bagai holing berlumut abad
menyemai sebuah perasaan tentang semesta :
manusia-masyarakat, gaib, dan alam
dan yakin ada tentangmu yang tersemat dalam-dalam
di sana memberantah.

21 Juli 2010 / Rabu

Untuk Perempuan dengan Selera Musiman

ambil musimanmu dan singkirkan dari planet
tak pantas kau-kalian kata dari galaxi
yang tanahnya dari cinta kasih kaca dan kaca
selaput aku-kami tak butuh angin-anginanmu
kami sudah punya magnet maha dahsyat
kosmos kami masih kuat menampung persenyawaan sejati

16 Juli 2010 / Jumat

Persenyawaan Sejati

antara bilangan-hati atau individu yang terlibat eros
tanpa sekat-gender sekat-orientasi seksual sekat-makhluk
adalah persenyawaan sejati tatkala merajut kasih dan saling menghargai

21 Oktober 2010 / Kamis

Tentang Nagari Serumpun

kami tat minta kau jawab sampai mana nasib perempuan kami
yang terdesak dicabuli setrika atau memar tinggal rusuk
kami tat gencar tanyakan mengapa kalian pulangkan mereka tinggal nama
di mana letak ketakadilan dan warna kemaruk
jika tiap menit tanah kami dirampas sesenti-senti dalam diam
atau secara terang mengambil air yang jelas milik merah-putih kami
lalu kalau beberapa anak kami dipukul kerna langgar batas mili kalian
apalah arti dengan pulau-budaya kami yang mau kalian klaim-miliki?

27 September 2010 / Senin

Rabu, 13 Oktober 2010

Membahas Pernikahan

Ada yang musti berpisah antar dua wanita
Satunya dipaksa menikah dengan pria
Lainnya disepak dipandang sampah
Dua-duanya sama tersiksa.

Ada yang seumur hidup menerawang
Sembunyikan diri di almari pakaian
Terisak saksikan ribuan wanita lalu lalang
Dia tersiksa berselibat.

Ada yang hidup bersama
Pernikahannya dilegalkan luar ranah bundanya
Pasangan lain pilih kumpul serumah
Mereka menghadapi cibiran.

Beginilah agaknya dunia kami
Pernikahan itu suatu maha pelik
Kebersamaan terkadang ditebus dengan pedih perih
Atau luka bau anyir.

Ada pun dunia kalian itu
Cerai kawin lagi selingkuh
Suatu hal yang rumit

1 Juli 2010 / Rabu

Si Bungsu dan Nazam

Nazam yang rela ditempa berkali
Baik dinista lalu dijunjung baru dimentahkan
Terakhir disemat dengan rendah hati
Adalah makna nazam yang bijak

28 Juli 2010 / Senin

Dia Berdo'a , Tuhan

Ya, Khalik :
ia ingin tetap iman
matinya tetap Islam
dan tetap jadi wanita yang sayangi perempuan
hingga kelak lupa fana-Mu di suatu padang

24 Agustus 2010 / Selasa

Si Bungsu, Handphone, Ruang, Waktu

merasa sebal terkalahkan saluran. keadaan
jadi tambah jengkel, kerna tak bisa dobrak
benteng. hendak tembus jam
tapi matari lumer. dan lumut pun kalah
dengan tapaku dalam penantian, sayang.

aku kuat menunggumu, suara

26 Agustus 2010 / Kamis


Ego A Belajar Dewasa

maksud-Nya anugrahi air selautan, nak
agar kau tak lantas meminum s'mua dan melupa
engkau harus pergunakan dengan bijak
alirkan bahgia itu ke sawah ladang
biar tanah kembali subur rimbunkan hutan
yang di dalamnya kau kan sua peri-peri keluarga kita
berkumpul dalam cahya karunia-Nya

27 Agustus 2010 / Jumat

Suatu Awal Bangkitnya Waktu-Timur

sebuah jalan putus dipusat utara kotamu
sejenak hiruk menghirup pikuk di harian
dan nanti pasti kan kembali jalan rodamu
lebih maha-metro lagi tambah tinggi
mencakar singgasana awan
cakar..
setinggi mungkin
tinggi..
untuk kemudian terbelah
jatuh tenggelam
dekenang sejarah

19 September 2010/ Minggu 1.47 am

Jumat, 13 Agustus 2010

Si Bungsu Merangkak

tiap 'nusia kan lihat ku jauh ke depan
di mana ku kan jelma jadi singa
tak lagi kelinci yang dicoba-coba
ku serahkan abdi-mimpiku pada keluarga besar
di mana ku kan beroleh jaya
dimulai dari timangan bunda-kakak dan sang naga
: berjuang

14 Juli 2010/Selasa

Si Bungsu yang Ada

merasa mau pecah mataku tahankan air
diri jadi asing di timangan bunda-kakak
lantas sadari diri dari ular
si bungsu jelma peri hutan
dan aku elang

16 Juli 2010/Jumat

Hidup Sehat (Semangat L-WI)

Jangan sangka lesbian adalah gila
Jangan tuduh lesbian adalah narkoba
Jangan identikkan lesbian dengan selera musiman
Jangan bilang lesbian seganas HIV-AIDS

Di sini kami satu keluarga besar
Di sini lesbian sebagai orientasi seksual
Di sini kami membagi sayang
Di sini kami bekerja bangun hidup berprestasi

11 Juli 2010/Minggu 8.20 pm

Si Bungsu dan Akhirat

mereka bermaksud memasung orientasi seksualku

dan tunduk menelan pelir yang bukan harapku

kata doktrin antara pelir dan vulva itu lurus

mereka mau mereparasi hidup berkelokku

dan katanya aku dosa penuh kutuk kalau tak mau

bilakah agama beriku surga karnaku patuhi norma

maka ku pinta bidadari kelak

bilakah neraka julurkan lidahnya bakar jiwa

sebab kekagumanku akan wanita tat tercerabut di hadapan ratus ribu pria

13 Juli 2010/ Senin

RhR

Membicarakan Kelamin, Orientasi, dan Kamu

Si bungsu terjaga dari lelap

Yang gelap dan sunyi

Aku ingat sewaktu penis pria itu mendesak masuk

Aku ingat sewaktu jari wanita itu berjuang menusuk

Jangkrik dan mengerik

Aku memang tak pantas membawa kelas mana

Aku hanya anak gadis yang memuja wanita

Dan nyanyi-nyanyi sekonyong terhenti

Namun persentuhan kelaminku dengan kelamin wanita

Adalah berasa paling sakral antara keduanya

Juga kesucian hymenku menjadi milik wanitaku

1 Juli 2010/Kamis 11.23 pm

RhR

Kamis, 13 Mei 2010

Puisi Pembaharuan

bunuh aku hina caci tanpa rupa
lekas tanpa ragu, ratuku
kerna kata-ku tak kan kelu. trus menerjang
melindas kertas oleh cairan tinta penaku
belenggu kaki tangan hati ku punya
kerna tetap daku jaga singgasanamu
taulanku kan jadi saksi nyata

13 Mei 2010/Kamis

Republik Rakyat Perempuan LBT
L-Word Indonesia

Minggu, 09 Mei 2010

Come Back With The New Spirit


Selamat pagi semuanya, akhirnya saya kembali lagi di sini, dalam kamar saya. Ujian nasional saya lulus dan mendapat nilai sebagai berikut :
Bahasa Indonesia : 7,80
Bahasa Inggris : 8.20
Matematika : 8,75
Fisika : 6,75
Kimia : 6,00
Biologi : 6,75

Sekarang saatnya saya bangkit dengan semangat baru. Mulai minggu ini saya akan kembali menulis.

Kamis, 04 Maret 2010

Sajak Sketsa Nama

to : Hera Petrina
Satu hal ingin ku lakukan
Buat puaskan dahaga
Satu hal saja ku pintakan
Untuk jawab teka-teki kita
Yaitu bersenyawa dengan kakak

18 Feb 2008/ Senin 9 pm






Jumat, 19 Februari 2010

Sajak Sketsa Nama

Semalam engkau singgah dalam buah tidurku

Senyum itu menghias bibirmu

Kasar itu terbawa suaramu

Kurang ajar itu terpancar dari matamu

Daya itu ada di tubuhmu

15 Okt 2004/Jumat 11 pm

Sabtu, 06 Februari 2010

Masih Ada Jalan

"Christopher, apakah tidak mungkin kita kembali seperti dahulu?"

"Melosa, kita sudah tidak bisa seperti dulu. Saat ini engkau mempunyai kehidupan baru begitu pula aku," ujar Christopher. "Perlu engkau ketahui, Christopher, bahwa aku mencintaimu sejak SD. Benarkah kita tidak mungkin kembali seperti semula, seperti tiga tahun lalu?" tanya Melosa. "Biarkanlah Tuhan mengatur waktunya."


Deg. Mengapatah takdir dan nasib sekongkol menolak kisahku? Mengapa aku tidak mampu meraihmu?


"Kristian," panggil Melosa. "Ya, ceritakanlah dengan tuntas tentang cowok masa lalumu itu," pinta Kristian simpati ketika melihat kawannya yang kacau untuk memulai bercerita.

"Melosa, apakah kau buta bercintakan lelaki itu? Ingat, Melosa, kau bakal mendapat reaksi keras dari keluargamu. Dia bukan lelaki yang pantas untukmu. Carilah lelaki yang sederajat."

Suara-suara penolakan yang dahulu itu kembali menyerang kesadarannya. Paru-parunya mendesak minta oksigen, cuma menciptakan sesak yang dulu-dulu pula. Amboi sakitnya, Tuhan.

"Lelaki itu, aku menyukainya sejak SD. Tiga tahun lalu kami pacaran. Setiap saat banyak ucapan menyakitkan menerpa hubungan kami. Akhirnya untuk meredam suasana, aku terpaksa berkata bahwa kami sudah putus dan sialnya aku belum memberi tahu Christopher. Justru dia tahu dari orang lain. Dia marah dan kecewa. Aku memang tolol."

"Kenapa kalian tidak direstui?" sela Kristian bingung.

"Wajar saja, kami tidak sederajat. Keluarganya kacau mirip gypsy. Faktor itu yang menyebabkan orang lain berpikir dia memanfaatkanku. Kami pun berbeda keyakinan.

Menurutku dia lelaki yang baik. Dia rela keluar sekolah untuk bekerja membiayai saudaranya. Tidak mengapa, kan, aku membantunya memberi ini-itu, meminjami itu-ini, sebab bukan saja ku pandang dia kekasih sepenanggungan, tapi lebih kepada hubungan kemanusiaan pula."

"Inikah yang berhari-hari engkau sembunyikan dariku dan Deborah?" geleng Kristian. "Benar. Aku tidak ada waktu menjelaskannya. Seharusnya hari ini aku menceritakan dengan gembira pada kalian, sayangnya…"

Aneh, air mataku tidak mengalir lagi.

"Ada apa? Bisa kamu menghubunginya?" tanya Kristian. "Bisa. Aku mendengar suaranya," gumam Melosa menerawang. "Maukah lelaki itu berjumpa lagi denganmu?" lanjut Kristian. "Ya, dia mau," sahut Melosa pendek. "Nah, engkau sudah tahu apartmentnya, bukan? Kami berdua akan mengantarkanmu kalau perlu."

"Awalnya ku pikir begitu," balas Melosa mulai tersedu. "Dia baru saja menjatuhkan palu. Kami sudah tak mungkin bersama. Kami masing-masing punya kehidupan baru. Dia lebih memilih bersahabat. Mengapa keadaannya berbalik begini? Aku sungguh tak berdaya. Apakah kini yang harus ku pegang, padahal pengharapanku ialah menyambung tali kasih? Nampak bagai raga hendak kehilangan hayat," keluh Melosa.

"Hentikan ucapanmu! Kau seperti gadis tolol. Gadis yang aku kenal itu kawanku yang suka tersenyum dan membuat orang lain tersenyum. Dia selalu menguatkan orang yang malang.

Dengarlah! Engkau penengah antara aku dan Deborah apa bila kami berselisih. Satu-satunya kawan yang tulus mendukung hubungan kami yaitu kamu. Aku bersyukur dianugrahi teman sepertimu di tengah dunia kacau balau ini.

Kau ini wanita, kau pandai. Guru-guru memujimu karena engkau murid istimewa. Kau boleh sedih, itu hakmu, namun jangan lama. Kau masih pelajar. Apa bila studimu telah tamat, laki-lakilah yang akan datang meminangmu, kau pun mendapat restu ."

"Sebenarnya kau membela siapa?" potong Melosa keras. "Bukan membela siapa atau siapa salah. Tapi rasionallah," bujuk Kristian. "Kristian, aku mencintai Christopher! Dia cintaku!"

"Aku tahu begitu kuat pengharapanmu. Sekarang bayangkan kau di posisinya. Keluarganya merendahkanmu, memandang sebelah mata, semua tidak memantaskanmu, bagai mana perasaanmu?"

"Tentu sakit. Dendam. Aku akan mencoba membuktikan pada semua orang bahwa aku tidak seperti yang mereka pikir."

"Itulah perasaannya. Mungkin saja lelaki itu merasa perlu membuktikan harga dirinya dengan giat bekerja, umpama dia mencintaimu. Kamu harus membuktikan tanggung jawabmu sebagai pelajar dulu, umpama kau juga mencintainya. Aku tahu karena aku pernah mengalami hal serupa dan aku juga seorang lelaki.

Ingat Melosa, aku dan Deborah sangat mencintaimu, kami banyak hutang budi padamu. Kami ingin kau medapat kebahagiaan pula, sebab kau sahabat kami. Aku bersedia membantumu. Jika aku tahu appartmentnya atau tempat kerjanya, aku akan mendatanginya dengan Deborah."

Aku lebih bersyukur lagi umpama kau Christopher Lincoln.

Melosa tersenyum. Demikianlah perasaannya menjadi tenang. Dia memang sedih, dan akan ditundanya di rumah, bukan di sekolah. Akan dipikirnya tenang-tenang sehabis tandas rasa sedihnya.

Aku jauh lebih bersyukur mengingat mempunyai sahabat-sahabat yang baik.

"Sungguh aku tidak suka setiap kali kami berpapasan denganmu di koridor, kau selalu muram. Begitu membaik, tersenyumlah kembali dengan keceriaanmu. Pelan-pelan tak apa-apa, kalau tidak sama sekali, aku akan sangat marah. Deborah tak akan berkawan lagi denganmu."

Melosa tersenyum simpul.

"Kristian, aku pikir kau benar. Jika aku berniat memperjuangkan cintaku, aku bukannya harus menangis dan terpuruk dalam kejatuhanku terus menerus. Tapi aku harus bangkit memperjuangkan dengan rasional dan tegar. Memang wanita itu perlu menangis bila sedih dan juga tetap harus bangkit memikirkan solusinya."

"Nah, itu baru namanya Melosa. Sudah ada gambaran mengenai rencanamu selanjutnya?" Kristian tersenyum senang pula. "O, belum. Akan ku pikir sesudah menghabiskan masa shock ini dulu di rumah. Pastinya aku ingin menjalin persahabatan dengannya. Sewaktu agak tenang tadi, aku mengingat ucapannya, dia menyuruhku menjalani dulu. Membiarkan Tuhan mengatur waktunya."

Bel panjang Dwyer School berkumandang.

"Belantara New York saja luas, masa keadaan tidak bisa berganti. Presiden kita saja sudah terpilih," gurau Melosa. Kristian tertawa renyah. "Well, salam untuk Deborah. Aku dengar perutnya sakit dan dia minta ijin. Kau akan mengantarkannya, bukan?"

"Yeah, gara-gara saus sandwich beef-nya," gerutu Kristian.

"Kadaluarsa?" gurau Melosa. Kristian menyeringai. "Eh, besok, kalau seumpamanya, lho," tahan Melosa. "Kenapa?" kata Kristian. "Ya, siapa tahu kau dan Deborah akan menikah dan aku dengan Kitto berjodoh, kalian mau jadi saksi bila kelak kami kawin lari?" bisik Melosa. "Pasti," tawa Krsitian, "anak-anak kalian akan jadi sahabat karib anak-anak kami."

"Engkau pantas mendapatkan Deborah. Okay, sampai jumpa besok pagi! Daag!"

"Daag!"


Kitto = nama panggilan kesayangan untuk Christopher


20-11-2008, Kamis


Jumat, 05 Februari 2010

Sajak Sketsa Nama

: to Hera Petrina

leburlah aku pada ragamu

satukanlah aku pada jiwamu

biarkanlah aku tetap padamu


oh, pahlawanku heroku

ku ucap terima kasih pada engkau

oh, kakakku terkasih

setubuhilah pikiranku hatiku perasaanku

dengan sifat-sifatmu


17 Okt 2004/ Minggu


Kamis, 04 Februari 2010

Yang Menjelma Satu

Ribuan kali kau baca aku, ratusan pula kau undang aku dalam mimpi. Sekarang kau malah sibuk berpikir dalam bingungmu. Atau malah tenggelam dalam fantasimu?

Ini aku, kau tahu? Tokoh yang kau cumbui dalam buku di sela waktumu. Ya, inilah aku yang kau cumbui di dalam pikirmu sebelum kau tidur. Ini aku, si tokoh yang mati tragis, mati muda. Tapi kau tahu aku senang mati muda. Hanya saja kenapa tiba-tiba kau bangunkan aku dari tidur panjangku? Ini aku!

Ayo! Kini aku tegak menjulang pada dua bola matamu. Meski masih samar dan abstrak, aku sebentar lagi akan kuat. Lihat garis-garis yang semakin tampak padaku. Sudahlah, cepat tarik kesimpulan! Apa yang menjadi rencanamu? Jangan hanya bengong karena aku sudah semakin kuat.

Biar aku terka. Mungkin akan kau hancur lumatkan tubuhku begitu sempurnaku datang. Bisa jadi kau kini akan mengajak aku secara terang-terangan menggauli malam? O, anak kecil yang genit kau. Tak inginkah engkau menerkamku seperti malam-malam kau memimpikanku? Engkau buas. Lacur kecil penggoda. Membuat aku lapar ingin merasakan wujudmu seutuhnya.

Dasar setan kecil! Kenapa kau masih sibuk seperti tadi? Mematung bagai batu di ujung bukit percintaanku dalam buku. Mau kau aku kutuk jadi batu? Tidak, bukan? Ayolah, ini aku kawan, tokoh dalam cerita.Yang menangis bagai gerimis Bharatayudha yang berteriak menikam kalbu yang hangat pada malammu. Yang sirna musna dalam ajalku. Ah, tapi bukankah kau berhasil membangunkan aku?

Aku tahu, hujan di luar sana masih sama, tapi apa mau kau bengong, sementara aku secara pasti akan menguat hampir menjelma? Orang lalu lalang masih tetap, namun waktu tak menunggumu. Sedetik kau terlambat ambil putusan, jatuhlah kau pada lubang kematianmu. Benar kau tak mau bereaksi? Bodoh. Masih tak yakin aku benar-benar tokoh itu?

Satu, aku buka seluruh kainku. Dua, ku lucuti piyamamu. Tiga, tunggu waktu.

(Lalu tokoh kecil kita bingung karena tak menyangka usahanya akan terwujud. Hanya itu saja tak bisa lebih. Lalu untuk urusan tetek bengek tentang mau apa rencananya, dia tak bisa berpikir. Belum sempat. Dia menggeleng.)

Yah, tahu-tahu tubuhnya sudah dihisap. Dilahap.

Kini kita telah senyawa, menyatu, dan aku telah jelma. Akulah nyata yang baru saja menghisapmu. Malangnya kau ku jadikan tumbal. Cih, tak sempat aku menahkodai tubuhmu. Tak sampai merasaimu dan dirasai, sebab kita sudah lebur jadi satu. Satu kesatuan yang tak bisa diuraikan. Aku tubuhmu kamu tubuhku. Tubuh yang satu nyawa satu napas. Ah, bukankah itu enak, kawan kecilku?

Lalu sekarang akan apa? Berdiam saja di sini sampai jadi sekerat batu berlumut lalu lapuk? Oya, aku tahu, aku ajak saja kau kembali dalam buku. Kita akan abadi dalam lembaran kitab lontar. Sebagai sebuah cinta yang penuh kegaiban. Tidak mengapakan kau aku ajak?

UUUNNGGG….

"Perhatian! Pasien bangsal psikiarti nomor sekian tewas! Perhatian!"

Suara dari microfon meraung. Dokter Araida berlari menuju kamar di mana pasien istimewanya rawat inap. Penuh kejut dilihatnya sebuah buku terbuka di lantai, pada bagian cinta platonis. Itu adalah buku kesayangan si pasien.

Mei, 2007

Renungan semasa kabur. Pembangunan suasana terinspirasi dari Harry Potter and The Chamber of Secret, Olenka, Soe Hok Gie Catatan Harian Seorang Demonstran, Garis Tepi Seorang Lesbian, serta kutukan dalam Roro Jonggrang dan Malin Kundang. Ternyata telah difilmkan atau dibukukan seorang ayah yang dapat memanggil tokoh dalam buku (diperankan oleh aktor The Mummy) hingga anaknya kerepotan (membaca resensi tahun 2008 atau 2009).


Pesawat Untuk Revel

PESAWAT UNTUK REVEL

"Ingin membeli apa, Tuan?" tanya pelayan toko dengan ramah. Aku baru saja tiba di ambang pintu toko. Aku balas dengan senyum ramah. Apa karena aku tampak lusuh dan kebetulan bawa uang banyak lantas mereka ramah? Ah, tak baik mencurigai orang yang ramah.

"Saya ingin mencari mainan untuk seseorang sebagai oleh-oleh," kataku. "Oya, kami punya banyak koleksi.Untuk siapa?" tanya pelayan sambil membimbingku. "Saya mencari.. sebuah mainan untuk.. teman saya," jawabku setengah berpikir. "Lelaki?" tanya pelayan. "Perempuan," jawabku. "Mari ke rak cewek!" ajak pelayan. "Eh, teman saya tidak begitu suka mainan cewek," cegahku.

Namun sebelum sempat si pelayan bersuara, papa dan anaknya memotong.

"Papa, aku ingin pesawat!" rengek anak. "Mainan saja yang kau pikir!" bentak papa.

Aku kasihan. Tapi tiba-tiba aku ingat sesuatu.

"Eh, saya ingin cari pesawat saja!" seruku. "Pesawat?" gumam pelayan heran, seolah aku bilang aku lupa bawa uang. "Ya, teman saya suka mainan seperti itu. Bisa tolong tunjukkan tempatya?" pintaku. "O, ya, ya, lewat sini!" gagap pelayan.

Aku dibawanya ke tikungan rak. Ada banyak pesawat yang dipajang. Jadi bingung sendiri. Mungkin lebih baik aku borong semua? Huh, bagai mana caraku membawanya? Terus bagai mana nasib anak-anak yang ingin membelinya? Bisa-bisa aku ditangkap polisi sebab membuat anak orang menangis. Jadi, yang mana?

Rupanya pelayan tahu aku kebingungan. "Coba yang ini dan ini dan ini lalu itu!"

Pelayan menunjukkan pesawat di sudut rak. Berceloteh tentang keunggulan masing-masing. Merah, jenis pesawat capung, yang putih besar jenis pesawat penumpang, biru pesawat tempur, dan pink pesawat remote control.

Pusing. Aku harus memilih atau tidak sama sekali.

Pesawat capung warnanya merah. Revel sedang terkena sindrom merah. Tidak bisa berjalan, tapi dapat berubah bentuk menjadi robot bila ditekan tombol remotnya. Pesawat penumpang hanya untuk pajangan. Bentuknya besar. Dari kacanya, kita dapat melihat miniatur orang-orang beraktifitas, layaknya di dalam kabin. Pesawat tempur terlalu kecil. Revel tengah mual-mual dengan warna itu. Warna Kakak Heranya. Pink bagus, bentuknya sedang, memakai remot control lagi. Namun Revel benci warna pink. Mengingatkan pada kenangan pahit dengan Kakak Heranya. Apa solusinya?

Seakan waktu terbang membawaku terbengong-bengong selama berjam-jam. Si pelayan tampaknya mulai kurang suka terhadapku. Jengkel. Merasa dipermainkankah dia? Heh, pembeli adalah raja, bukan? Tapi kalau tiba-tiba aku tak jadi membeli? Mahalkah harganya? Aku bukan Revel yang punya banyak uang. Aku ini penulis pengangguran, luntang-lantung. Terlalu miskin aku.

Revel beruang, akan tetapi satu yang tidak ia miliki. Cinta kasih. Perasaan mendapat cinta kasih. Ia selalu merasa tak ada yang memberinya cinta kasih. Orang tuanya dibunuh. Saudara tuanya dibunuh. Anak korban diskriminasi. Anak yang terpaksa pergi dari singgasananya demi menghindari para pembunuh bayaran. Pembunuh bayaran kiriman para pendendam dan pengincar harta.

Stop! Dilarang keluar jalur merah. Aku harus segera memilih untuk Revel. Supaya pelayan itu tidak semakin kesal. Putih? Merah. Biru? Pink. Mana? Mana?

Sekonyong-konyong pesawat capung diambil kakek untuk cucunya. Bagai tersadar dari antah aku menoleh ke arah pelayan. Pelayan sudah luar biasa jengkel. Tapi toh ditahannya. "Bagai mana? Sudah ketemu?" tanya pelayan. "E, ya, baru saja say…"

Selanjutnya pesawat tempur diambil papa untuk anaknya. Pesawat penumpang untuk putranya dari mamanya, tinggal pesawat pink, yang pada akhirnya diambil paman-bibi untuk ponakan.

"Bagai mana, Tuan?" getaran itu terasa di ujung bibir pelayan. Sial! Kenapa tidak kamu bentak saja aku? Lebih baik aku beli sepasang sayap saja. Agar Revel dapat terbang mencari Soledad atau Hera. Bisa jadi dapat pulang balik Sonxdaez tanpa ketahuan. Bahkan ia dapat pergi menemui kekasih jiwanya.

Mungkin pula ia membubung ke angkasa, meninggalkan dunianya, sakitnya, laranya, dukanya, dan biar ia menari berdendang, menyempurnakan mimpinya.

Biar ia merauk kasih, mereguk dan meminum sepuasnya. Biar ia tak sedih, tak susah, tak duka, tak tekan, tak letih, dan yang terpenting ia dapat tersenyum. Senyum Revel manis. O iya!!! Sayap!!!

"Saya ingin sepasang sayap. Adakah Anda jual?" tanyaku. "Sayap?" cengang pelayan melebihi marah di ubun-ubun batok kepala. "Ya, sepasang sayap," ulangku. "Sin-ting!!"


Selasa, 02 Februari 2010

Nyala Lilin

Katanya, kasih sayang itu seperti sekumpulan lilin dengan satu korek api. Nyalakan lilin satu, lalu dengan satu lilin itu nyalakan sumbu lilin yang lain menggunakan apinya, terus nyalakan hingga batang lilin yang lain. Begitu kuatnya nyala lilin pertama menandakan jika kasih sayang itu amat kuat. Lihat cahanya yang menerangi sekitarnya.

Rabu, 27 Januari 2010

Wahana Baru (My Life)

HUTAN HUJAN
to : Rain Forest

Kepalaku sakit siap meradang
Di mana hadirmu ku nanti kau datang
Mauku ‘lesat bagai kijang
Susuri hutan ‘nikmati hujan
Ini ragaku kesakitan
Datanglah Rain datang hujan




 Mantra Tiga Kata
to : Marry

Kar’na tlah masuki hutan
Mantra baru lahir dari hujan
Katanya ‘ucap nama tiga kali hitungan’
Maka cahya ‘kan datang beri pencerahan

Rabu, 8 Juli 2009

Rabu, 13 Januari 2010

Yang Ditemukan

tentang anak yang yunda temukan
dalam kebalauan
slalu tanya-tanyakan
maknanya
dan yunda ijinkan
masuki hutan
curahi dia dengan tarian hujan
ajarkan dia cintai hidupnya

13 Januari 2010/ Rabu 3.00 am

Not Gonna Get Us (tatu)

Not gonna get us

They're not gonna get us
Not gonna get us!

Starting from here, let's make a promise
You and me, let's just be honest


We're gonna run, nothing can stop us


Even the night that falls all around us
Soon there will be laughter and voices

Beyond the clouds over the mountains
We'll run away on roads that are empty
Lights from the airfield shining upon you

Nothing can stop us, not now, I love you
We'll run away, keep everything simple

Night will come down, our guardian angel
We rush ahead, the crossroads are empty
Our spirits rise, they're not gonna get us

My love for you, always forever
Just you and me, all else is nothing
Not going back, not going back there
They don't understand,
They don't understand us


Translete :

Tiada yang dapat menemukan kita

Mereka tidak mampu menemukan kita

Tidak dapat menemukan kita


Dimulai dari sini marilah kita berjanji

Kamu dan aku saling jujur


Malam menjemput dengan salju mengitari kita

Akan segera tiba suara tawa dan teriakan



Bersama awan di antara pegunungan

Kita akan berlarian di jalanan yang sepi

Cahaya lampu dari langit menerpa dirimu


Tiada yang mampu menghentikan kita, tak kan ada

Sekarang aku mencintaimu

Kita akan berlari jauh membuat segalanya mudah


Kita berlari dan tak kan ada yang mampu menghentikan kita


Malam akan segera tiba, malaikat penjaga kami

Kita berjalan cepat, jalanan terasa sepi

Semangat kita muncul, mereka tidak mampu menangkap kita


Cintaku padamu, kekal abadi

Hanya kamu dan aku, yang lainnya bukan siapa-siapa

Tak kan kembali, tak kan kembali ke sana

Mereka tidak mengerti

Mereka tidak mengerti kita


Arti :

Sewaktu kita mengambil jalan ini (menjadi lines), maka semua orang tak mampu menghentikan keyakinan kita ini. Aku mengajakmu berjanji untuk saling jujur dan marilah kita bersama-sama berjalan di jalan ini (lines) dengan perasaan riang, meski semua orang mendiskriminasikan kita. Kita berdua akan pergi jauh dari sini dan segala rintangan akan hancur. Kita akan menghadapinya bersama-sama, sebab sekarang aku berani mengakui di depan umum jika aku mencintaimu. Semangat kita muncul saat malaikat menjaga kita menghadapi tuntutan masyarakat. Lupakan yang lainnya dan segalanya, di sini, di jalur ini, hanya ada engkau dan aku, dan kita tidak akan kembali menjadi heterosexual. Walau mereka tak memahami kita, namun cintaku abadi untukmu.



Kesimpulan : akan bersama-sama menghadapi hujatan masyarakat akibat orientasi sexual yang berbeda karena aku mencintaimu dengan kesungguhan hati.

Aku Manusia-Mu

Engkau tentu tahu tentang hati ku punya
Ini hati s'lalu teriak minta cinta kasih tanpa batas
Inginnya dari tiap wanita yang Engkau cipta
Dikasih perhatian-sayang dengan ikhlas

Meski s'gala peradaban pun perhatian menolak
Batin terpinggir terkucil tetap men-jalur di kelokan
Bahkan dalam alkitab Engkau kutuk hingga umum mendepak
Dengan kehinaan paling dina daku coba bertahan

Engkau tentu tahu tentang hati ku punya
Tersebab Engkau Sang Maha Tahu dan Pencipta

3 Januari 2010/ 7.40 pm