"Christopher, apakah tidak mungkin kita kembali seperti dahulu?"
"Melosa, kita sudah tidak bisa seperti dulu. Saat ini engkau mempunyai kehidupan baru begitu pula aku," ujar Christopher. "Perlu engkau ketahui, Christopher, bahwa aku mencintaimu sejak SD. Benarkah kita tidak mungkin kembali seperti semula, seperti tiga tahun lalu?" tanya Melosa. "Biarkanlah Tuhan mengatur waktunya."
Deg. Mengapatah takdir dan nasib sekongkol menolak kisahku? Mengapa aku tidak mampu meraihmu?
"Kristian," panggil Melosa. "Ya, ceritakanlah dengan tuntas tentang cowok masa lalumu itu," pinta Kristian simpati ketika melihat kawannya yang kacau untuk memulai bercerita.
"Melosa, apakah kau buta bercintakan lelaki itu? Ingat, Melosa, kau bakal mendapat reaksi keras dari keluargamu. Dia bukan lelaki yang pantas untukmu. Carilah lelaki yang sederajat."
Suara-suara penolakan yang dahulu itu kembali menyerang kesadarannya. Paru-parunya mendesak minta oksigen, cuma menciptakan sesak yang dulu-dulu pula. Amboi sakitnya, Tuhan.
"Lelaki itu, aku menyukainya sejak SD. Tiga tahun lalu kami pacaran. Setiap saat banyak ucapan menyakitkan menerpa hubungan kami. Akhirnya untuk meredam suasana, aku terpaksa berkata bahwa kami sudah putus dan sialnya aku belum memberi tahu Christopher. Justru dia tahu dari orang lain. Dia marah dan kecewa. Aku memang tolol."
"Kenapa kalian tidak direstui?" sela Kristian bingung.
"Wajar saja, kami tidak sederajat. Keluarganya kacau mirip gypsy. Faktor itu yang menyebabkan orang lain berpikir dia memanfaatkanku. Kami pun berbeda keyakinan.
Menurutku dia lelaki yang baik. Dia rela keluar sekolah untuk bekerja membiayai saudaranya. Tidak mengapa, kan, aku membantunya memberi ini-itu, meminjami itu-ini, sebab bukan saja ku pandang dia kekasih sepenanggungan, tapi lebih kepada hubungan kemanusiaan pula."
"Inikah yang berhari-hari engkau sembunyikan dariku dan Deborah?" geleng Kristian. "Benar. Aku tidak ada waktu menjelaskannya. Seharusnya hari ini aku menceritakan dengan gembira pada kalian, sayangnya…"
Aneh, air mataku tidak mengalir lagi.
"Ada apa? Bisa kamu menghubunginya?" tanya Kristian. "Bisa. Aku mendengar suaranya," gumam Melosa menerawang. "Maukah lelaki itu berjumpa lagi denganmu?" lanjut Kristian. "Ya, dia mau," sahut Melosa pendek. "Nah, engkau sudah tahu apartmentnya, bukan? Kami berdua akan mengantarkanmu kalau perlu."
"Awalnya ku pikir begitu," balas Melosa mulai tersedu. "Dia baru saja menjatuhkan palu. Kami sudah tak mungkin bersama. Kami masing-masing punya kehidupan baru. Dia lebih memilih bersahabat. Mengapa keadaannya berbalik begini? Aku sungguh tak berdaya. Apakah kini yang harus ku pegang, padahal pengharapanku ialah menyambung tali kasih? Nampak bagai raga hendak kehilangan hayat," keluh Melosa.
"Hentikan ucapanmu! Kau seperti gadis tolol. Gadis yang aku kenal itu kawanku yang suka tersenyum dan membuat orang lain tersenyum. Dia selalu menguatkan orang yang malang.
Dengarlah! Engkau penengah antara aku dan Deborah apa bila kami berselisih. Satu-satunya kawan yang tulus mendukung hubungan kami yaitu kamu. Aku bersyukur dianugrahi teman sepertimu di tengah dunia kacau balau ini.
Kau ini wanita, kau pandai. Guru-guru memujimu karena engkau murid istimewa. Kau boleh sedih, itu hakmu, namun jangan lama. Kau masih pelajar. Apa bila studimu telah tamat, laki-lakilah yang akan datang meminangmu, kau pun mendapat restu ."
"Sebenarnya kau membela siapa?" potong Melosa keras. "Bukan membela siapa atau siapa salah. Tapi rasionallah," bujuk Kristian. "Kristian, aku mencintai Christopher! Dia cintaku!"
"Aku tahu begitu kuat pengharapanmu. Sekarang bayangkan kau di posisinya. Keluarganya merendahkanmu, memandang sebelah mata, semua tidak memantaskanmu, bagai mana perasaanmu?"
"Tentu sakit. Dendam. Aku akan mencoba membuktikan pada semua orang bahwa aku tidak seperti yang mereka pikir."
"Itulah perasaannya. Mungkin saja lelaki itu merasa perlu membuktikan harga dirinya dengan giat bekerja, umpama dia mencintaimu. Kamu harus membuktikan tanggung jawabmu sebagai pelajar dulu, umpama kau juga mencintainya. Aku tahu karena aku pernah mengalami hal serupa dan aku juga seorang lelaki.
Ingat Melosa, aku dan Deborah sangat mencintaimu, kami banyak hutang budi padamu. Kami ingin kau medapat kebahagiaan pula, sebab kau sahabat kami. Aku bersedia membantumu. Jika aku tahu appartmentnya atau tempat kerjanya, aku akan mendatanginya dengan Deborah."
Aku lebih bersyukur lagi umpama kau Christopher Lincoln.
Melosa tersenyum. Demikianlah perasaannya menjadi tenang. Dia memang sedih, dan akan ditundanya di rumah, bukan di sekolah. Akan dipikirnya tenang-tenang sehabis tandas rasa sedihnya.
Aku jauh lebih bersyukur mengingat mempunyai sahabat-sahabat yang baik.
"Sungguh aku tidak suka setiap kali kami berpapasan denganmu di koridor, kau selalu muram. Begitu membaik, tersenyumlah kembali dengan keceriaanmu. Pelan-pelan tak apa-apa, kalau tidak sama sekali, aku akan sangat marah. Deborah tak akan berkawan lagi denganmu."
Melosa tersenyum simpul.
"Kristian, aku pikir kau benar. Jika aku berniat memperjuangkan cintaku, aku bukannya harus menangis dan terpuruk dalam kejatuhanku terus menerus. Tapi aku harus bangkit memperjuangkan dengan rasional dan tegar. Memang wanita itu perlu menangis bila sedih dan juga tetap harus bangkit memikirkan solusinya."
"Nah, itu baru namanya Melosa. Sudah ada gambaran mengenai rencanamu selanjutnya?" Kristian tersenyum senang pula. "O, belum. Akan ku pikir sesudah menghabiskan masa shock ini dulu di rumah. Pastinya aku ingin menjalin persahabatan dengannya. Sewaktu agak tenang tadi, aku mengingat ucapannya, dia menyuruhku menjalani dulu. Membiarkan Tuhan mengatur waktunya."
Bel panjang Dwyer School berkumandang.
"Belantara New York saja luas, masa keadaan tidak bisa berganti. Presiden kita saja sudah terpilih," gurau Melosa. Kristian tertawa renyah. "Well, salam untuk Deborah. Aku dengar perutnya sakit dan dia minta ijin. Kau akan mengantarkannya, bukan?"
"Yeah, gara-gara saus sandwich beef-nya," gerutu Kristian.
"Kadaluarsa?" gurau Melosa. Kristian menyeringai. "Eh, besok, kalau seumpamanya, lho," tahan Melosa. "Kenapa?" kata Kristian. "Ya, siapa tahu kau dan Deborah akan menikah dan aku dengan Kitto berjodoh, kalian mau jadi saksi bila kelak kami kawin lari?" bisik Melosa. "Pasti," tawa Krsitian, "anak-anak kalian akan jadi sahabat karib anak-anak kami."
"Engkau pantas mendapatkan Deborah. Okay, sampai jumpa besok pagi! Daag!"
"Daag!"
Kitto = nama panggilan kesayangan untuk Christopher
20-11-2008, Kamis
Tidak ada komentar:
Posting Komentar