Kamis, 04 Februari 2010

Yang Menjelma Satu

Ribuan kali kau baca aku, ratusan pula kau undang aku dalam mimpi. Sekarang kau malah sibuk berpikir dalam bingungmu. Atau malah tenggelam dalam fantasimu?

Ini aku, kau tahu? Tokoh yang kau cumbui dalam buku di sela waktumu. Ya, inilah aku yang kau cumbui di dalam pikirmu sebelum kau tidur. Ini aku, si tokoh yang mati tragis, mati muda. Tapi kau tahu aku senang mati muda. Hanya saja kenapa tiba-tiba kau bangunkan aku dari tidur panjangku? Ini aku!

Ayo! Kini aku tegak menjulang pada dua bola matamu. Meski masih samar dan abstrak, aku sebentar lagi akan kuat. Lihat garis-garis yang semakin tampak padaku. Sudahlah, cepat tarik kesimpulan! Apa yang menjadi rencanamu? Jangan hanya bengong karena aku sudah semakin kuat.

Biar aku terka. Mungkin akan kau hancur lumatkan tubuhku begitu sempurnaku datang. Bisa jadi kau kini akan mengajak aku secara terang-terangan menggauli malam? O, anak kecil yang genit kau. Tak inginkah engkau menerkamku seperti malam-malam kau memimpikanku? Engkau buas. Lacur kecil penggoda. Membuat aku lapar ingin merasakan wujudmu seutuhnya.

Dasar setan kecil! Kenapa kau masih sibuk seperti tadi? Mematung bagai batu di ujung bukit percintaanku dalam buku. Mau kau aku kutuk jadi batu? Tidak, bukan? Ayolah, ini aku kawan, tokoh dalam cerita.Yang menangis bagai gerimis Bharatayudha yang berteriak menikam kalbu yang hangat pada malammu. Yang sirna musna dalam ajalku. Ah, tapi bukankah kau berhasil membangunkan aku?

Aku tahu, hujan di luar sana masih sama, tapi apa mau kau bengong, sementara aku secara pasti akan menguat hampir menjelma? Orang lalu lalang masih tetap, namun waktu tak menunggumu. Sedetik kau terlambat ambil putusan, jatuhlah kau pada lubang kematianmu. Benar kau tak mau bereaksi? Bodoh. Masih tak yakin aku benar-benar tokoh itu?

Satu, aku buka seluruh kainku. Dua, ku lucuti piyamamu. Tiga, tunggu waktu.

(Lalu tokoh kecil kita bingung karena tak menyangka usahanya akan terwujud. Hanya itu saja tak bisa lebih. Lalu untuk urusan tetek bengek tentang mau apa rencananya, dia tak bisa berpikir. Belum sempat. Dia menggeleng.)

Yah, tahu-tahu tubuhnya sudah dihisap. Dilahap.

Kini kita telah senyawa, menyatu, dan aku telah jelma. Akulah nyata yang baru saja menghisapmu. Malangnya kau ku jadikan tumbal. Cih, tak sempat aku menahkodai tubuhmu. Tak sampai merasaimu dan dirasai, sebab kita sudah lebur jadi satu. Satu kesatuan yang tak bisa diuraikan. Aku tubuhmu kamu tubuhku. Tubuh yang satu nyawa satu napas. Ah, bukankah itu enak, kawan kecilku?

Lalu sekarang akan apa? Berdiam saja di sini sampai jadi sekerat batu berlumut lalu lapuk? Oya, aku tahu, aku ajak saja kau kembali dalam buku. Kita akan abadi dalam lembaran kitab lontar. Sebagai sebuah cinta yang penuh kegaiban. Tidak mengapakan kau aku ajak?

UUUNNGGG….

"Perhatian! Pasien bangsal psikiarti nomor sekian tewas! Perhatian!"

Suara dari microfon meraung. Dokter Araida berlari menuju kamar di mana pasien istimewanya rawat inap. Penuh kejut dilihatnya sebuah buku terbuka di lantai, pada bagian cinta platonis. Itu adalah buku kesayangan si pasien.

Mei, 2007

Renungan semasa kabur. Pembangunan suasana terinspirasi dari Harry Potter and The Chamber of Secret, Olenka, Soe Hok Gie Catatan Harian Seorang Demonstran, Garis Tepi Seorang Lesbian, serta kutukan dalam Roro Jonggrang dan Malin Kundang. Ternyata telah difilmkan atau dibukukan seorang ayah yang dapat memanggil tokoh dalam buku (diperankan oleh aktor The Mummy) hingga anaknya kerepotan (membaca resensi tahun 2008 atau 2009).


Tidak ada komentar:

Posting Komentar