PESAWAT UNTUK REVEL
"Ingin membeli apa, Tuan?" tanya pelayan toko dengan ramah. Aku baru saja tiba di ambang pintu toko. Aku balas dengan senyum ramah. Apa karena aku tampak lusuh dan kebetulan bawa uang banyak lantas mereka ramah? Ah, tak baik mencurigai orang yang ramah.
"Saya ingin mencari mainan untuk seseorang sebagai oleh-oleh," kataku. "Oya, kami punya banyak koleksi.Untuk siapa?" tanya pelayan sambil membimbingku. "Saya mencari.. sebuah mainan untuk.. teman saya," jawabku setengah berpikir. "Lelaki?" tanya pelayan. "Perempuan," jawabku. "Mari ke rak cewek!" ajak pelayan. "Eh, teman saya tidak begitu suka mainan cewek," cegahku.
Namun sebelum sempat si pelayan bersuara, papa dan anaknya memotong.
"Papa, aku ingin pesawat!" rengek anak. "Mainan saja yang kau pikir!" bentak papa.
Aku kasihan. Tapi tiba-tiba aku ingat sesuatu.
"Eh, saya ingin cari pesawat saja!" seruku. "Pesawat?" gumam pelayan heran, seolah aku bilang aku lupa bawa uang. "Ya, teman saya suka mainan seperti itu. Bisa tolong tunjukkan tempatya?" pintaku. "O, ya, ya, lewat sini!" gagap pelayan.
Aku dibawanya ke tikungan rak. Ada banyak pesawat yang dipajang. Jadi bingung sendiri. Mungkin lebih baik aku borong semua? Huh, bagai mana caraku membawanya? Terus bagai mana nasib anak-anak yang ingin membelinya? Bisa-bisa aku ditangkap polisi sebab membuat anak orang menangis. Jadi, yang mana?
Rupanya pelayan tahu aku kebingungan. "Coba yang ini dan ini dan ini lalu itu!"
Pelayan menunjukkan pesawat di sudut rak. Berceloteh tentang keunggulan masing-masing. Merah, jenis pesawat capung, yang putih besar jenis pesawat penumpang, biru pesawat tempur, dan pink pesawat remote control.
Pusing. Aku harus memilih atau tidak sama sekali.
Pesawat capung warnanya merah. Revel sedang terkena sindrom merah. Tidak bisa berjalan, tapi dapat berubah bentuk menjadi robot bila ditekan tombol remotnya. Pesawat penumpang hanya untuk pajangan. Bentuknya besar. Dari kacanya, kita dapat melihat miniatur orang-orang beraktifitas, layaknya di dalam kabin. Pesawat tempur terlalu kecil. Revel tengah mual-mual dengan warna itu. Warna Kakak Heranya. Pink bagus, bentuknya sedang, memakai remot control lagi. Namun Revel benci warna pink. Mengingatkan pada kenangan pahit dengan Kakak Heranya. Apa solusinya?
Seakan waktu terbang membawaku terbengong-bengong selama berjam-jam. Si pelayan tampaknya mulai kurang suka terhadapku. Jengkel. Merasa dipermainkankah dia? Heh, pembeli adalah raja, bukan? Tapi kalau tiba-tiba aku tak jadi membeli? Mahalkah harganya? Aku bukan Revel yang punya banyak uang. Aku ini penulis pengangguran, luntang-lantung. Terlalu miskin aku.
Revel beruang, akan tetapi satu yang tidak ia miliki. Cinta kasih. Perasaan mendapat cinta kasih. Ia selalu merasa tak ada yang memberinya cinta kasih. Orang tuanya dibunuh. Saudara tuanya dibunuh. Anak korban diskriminasi. Anak yang terpaksa pergi dari singgasananya demi menghindari para pembunuh bayaran. Pembunuh bayaran kiriman para pendendam dan pengincar harta.
Stop! Dilarang keluar jalur merah. Aku harus segera memilih untuk Revel. Supaya pelayan itu tidak semakin kesal. Putih? Merah. Biru? Pink. Mana? Mana?
Sekonyong-konyong pesawat capung diambil kakek untuk cucunya. Bagai tersadar dari antah aku menoleh ke arah pelayan. Pelayan sudah luar biasa jengkel. Tapi toh ditahannya. "Bagai mana? Sudah ketemu?" tanya pelayan. "E, ya, baru saja say…"
Selanjutnya pesawat tempur diambil papa untuk anaknya. Pesawat penumpang untuk putranya dari mamanya, tinggal pesawat pink, yang pada akhirnya diambil paman-bibi untuk ponakan.
"Bagai mana, Tuan?" getaran itu terasa di ujung bibir pelayan. Sial! Kenapa tidak kamu bentak saja aku? Lebih baik aku beli sepasang sayap saja. Agar Revel dapat terbang mencari Soledad atau Hera. Bisa jadi dapat pulang balik Sonxdaez tanpa ketahuan. Bahkan ia dapat pergi menemui kekasih jiwanya.
Mungkin pula ia membubung ke angkasa, meninggalkan dunianya, sakitnya, laranya, dukanya, dan biar ia menari berdendang, menyempurnakan mimpinya.
Biar ia merauk kasih, mereguk dan meminum sepuasnya. Biar ia tak sedih, tak susah, tak duka, tak tekan, tak letih, dan yang terpenting ia dapat tersenyum. Senyum Revel manis. O iya!!! Sayap!!!
"Saya ingin sepasang sayap. Adakah Anda jual?" tanyaku. "Sayap?" cengang pelayan melebihi marah di ubun-ubun batok kepala. "Ya, sepasang sayap," ulangku. "Sin-ting!!"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar