Sabtu, 23 November 2013

Legenda Buah Rambutan (versi Sapho)

Konon katanya, pada jaman dahulu, kulit buah rambutan tidak memiliki serabut. Kulit buahnya polos. Apa yang membuatnya berambut? Demikian kisahnya. Di sebuah kerajaan kecil, terdapat Kuil Dewata. Di sana tumbuh pohon dengan buah-buah berwarna merah dan kuning. Pohon itu dijaga oleh pengawal kuil.
Putri Lioni yang pemberani datang dari jauh demi memetik buah tersebut. Katanya buah tersebut adalah Buah Pengetahuan dan Buah Cinta, Buah Terlarang. Buah yang membuat Adam dan Eva terusir dari surga. Sang Putri ditemani oleh abdinya yang setia, Leith.
Maka tibalah Putri Lioni di kuil. Dia disambut oleh Kepala Kuil. Biksuni Tiana. Biksuni ini telah melihat kedatangannya dari Cermin Ajaib. 
"Silakan masuk, Putri Lioni. Apa yang membuat Anda berkenan datang ke kuil kecil ini? Bukankah Kerajaan Atas memiliki Kuil Pemujaan yang Agung?" Biksuni Tiana mempersilakan dari balik cadarnya. Dari mana Biksuni ini tahu asal-usulnya, batin Putri Lioni. Namun ia segera sadar dengan siapa ia berhadapan. Biksuni yang terkenal dengan magisnya. "Saya hanya ingin singgah melepas penat di kuil ini," ujar Putri Lioni. "Silakan, Tuan Putri, Kuil Dewata ini memang rumah bagi kanak-kanaknya."
Setelah Putri Lioni membakar pedupaan di altar, ia menghampiri Leith. "Malam segera tiba, kita pasti bisa mengambil buah itu," bisik Putri Lioni. "Sebaiknya kita urungkan saja niat kita, Nona," cegah Leith untuk kesekian kalinya. "Tidak bisa. Aku akan merampas buah itu meski kuil ini penuh dengan magis. Kesaktian pedang Kerajaan Atas tak ada yang mampu menandinginya," bantah Putri Lioni sesumbar.
Malam yang dijanjikan pun tiba. Terjadilah kegemparan tatkala Putri Lioni mengambil dua buah terlarang itu. Pengawal kuil tak mampu melawan kemahiran berpedang Kerajaan Atas. "Lekas hubungi istana!" perintah Biksuni Tiana. Lalu pos-pos penjagaan ramailah oleh lonceng-lonceng. Para pengawal bermunculan dari sudut-sudut jalan. Mereka mengejar kedua pencuri yang tidak mampu mereka tandingi. "Nona Lioni! Gerbangnya tertutup!" teriak Leith. Celaka. Putri Lioni menatap dinding-dinding kerjaan. "Melompatlah ke dinding!" ajaknya.
Putri Lioni melompat dari kudanya. Berlari dan menaiki dinding, melompat ke atas. Sayangnya hujan anak panah mengenai Leith yang hendak menyusulnya. "Kyaa!!!" lengkingnya. "Leith!?!" pekik Putri Lioni. "Larilah, nonaku! Selamatkan nyawa Anda!"
Jreeb..
"Arrgh..." Beberapa anak panah menembus baju zirah Putri Lioni, membuatnya limbung. Dia menebas anak panah di perutnya. Ia segera melompat keluar. Menghambur ke kegelapan malam. Jauh di sana, di kuil, Biksuni Tiana menyaksikan lewat cerminnya. Lantas dicabutnya rambutnya, lalu dilempar ke arah cermin, yang segera menghilang.
Putri Lioni terjatuh di bawah pohon. "Panah ini bercaun," keluhnya. Dari sakunya, buah terlarang itu menampakkan keanehan. Mulailah tumbuh berhelai-helai rambut dari kulitnya. Memanjang keluar saku, terus memanjang, meliliti tubuh Putri Lioni. "Ada apa ini!?" Putri Lioni berusaha membebaskan diri dari jeratannya. Kutuk biksuni menimpanya. Baju zirah bahkan tertembus oleh sulur-sulur rambut. "Tolong!" lolongnya panik.
Bless...
Dari balik kabut, muncul Biksuni Tiana. "Apa Anda sudah kapok, Putri Lioni?" tawa Biksuni Tiana. "Tolong bebaskan saya. Saya hanya ingin mencoba Buah Terlarang ini," pinta Putri Lioni. "Buah Terlarang?" ulang biksuni dengan geli. "Ya, kuil kalian memiliki buah dari surga. Saya ingin menambah pengetahuan saya dan menemukan cinta saya," jelas Putri Lioni.
"Dasar Tuan Putri bodoh, itu bukan Buah Terlarang yang Anda maksud. Itu memang buah berharga, salah satu di antara Buah Vitamin, bagus bagi kesehatan tubuh," olok Biksuni Tiana. Ia melepas cadarnya dan mengibaskan kearah sulur-sulur rambut. Ajaib, sulu-sulur itu lambat laun semakin pendek. Kantuk yang tadi menyerang pun sirna.
Ia terpukau, seakan baru bangun dari tidur. Biksuni Tiana berjongkok di depannya. "Nah, sekarang kembalikan buah kami dan kami akan kembalikan pengawal Anda," kata Biksuni Tiana. "Saya sangka Anda sudah tua," ujar Putri Lioni. "Anda terlalu cepat menyimpulkan. Saya adalah Putri Tiana yang sejak kecil tinggal di Kuil Dewata. Nenek saya, kepala kuil, menunjuk saya untuk menggantikannya, sebelum beliau wafat. Sebenarnya saya akan memberikan buah ini seandainya Anda meminta baik-baik."
"Anda pasti hebat dengan sihir Anda. Maaf, saya terlalu sombong dan meremehkan." Putri Lioni tertunduk malu. "Oh, tidak, ini berkat Dewata. Lihat, ilmu saya belum sempurna. Masih ada sisa-sisa rambut pada kulit buah ini." Rambut itu pun menjadi serabut pada kulit buah. "Kita dapat menamainya buah rambutan," cetus Putri Lioni.
"Anda tahu, buah apel dan buah tomatlah buah terlarang itu. Sekarang masihkah Tuan Putri hendak mencari Buah Pengetahuan?" tanya Biksuni Tiana. "Tidak," geleng Putri Lioni. "Mengapa?" tanya Biksuni Tiana. "Saya baru saja memetik pelajaran berharga dari kuil Anda," jawab Putri Lioni lembut. "Apakah itu?" tanya Biksuni Tiana. "Meski pun saya putri kerajaan dengan armada terhebat, saya tidak boleh merampas yang bukan hak saya, dan saya tidak boleh meremehkan orang lain."
"Lantas, masihkah Tuan Putri hendak mencari Buah Cinta?" tanya Biksuni lagi. "Tidak," tukas Putri Lioni kuat-kuat. "Saya baru saja jatuh cinta," bisiknya sambil mengecup dahi si Biksuni. "Anda memang putri yang pemberani. Mari, belajarlah di kuil saya sebagai hukuman Anda membuat kekacauan," ajak Biksuni Tiana. "Dengan senang hati, tetapi bagai mana dengan perasaan saya?" usik Putri Lioni. "Itu akan saya pikirkan nanti," tawa Biksuni Tiana.
Kemudian Putri Lioni dan Leith menetap di kuil tersebut. Tuan Putri menjadi murid Biksuni Tiana dan mereka berdua hidup bersama hingga tua. Ada pun buah vitamin di kuil berubah menjadi buah rambutan. Buah ajaib ini mengandung setidaknya vitamin C, A, serta B. Buah yang baik bagi kesehatan.

13-11-2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar