Jumat, 11 Januari 2013

Pengembara Bercadar dan Putri Tiana




Pada jaman dahulu ada sebuah kerajaan besar yang membawahi beberapa kerajaan kecil. Suatu ketika Raja Atas menggelar sebuah pesta dansa untuk putrinya yang ke-3, alias Putri Lioni. Pesta dansa tersebut digelar untuk mendapatkan jodoh bagi Putri Lioni. Putri Lioni banyak berdansa dengan para bangsawan namun belum terpikat.

Merasa bosan, dia berjalan di taman. Di tepi kolam ikan ada Putri Tiana tengah bermain kecapi. Parasnya yang terkena cahaya bulan memikatnya. Tiba-tiba salah satu senarnya putus. Sewaktu dia ingin mendekat dan berkenalan, gerimis datang, dan si Peri Air berlari masuk ke ruang pesta. Putri Lioni berusaha mencarinya namun tidak berhasil sampai larut malam dan para tamu berangsur pulang.

Di bagian inilah dia melihat bayangan si Peri Air. Dia berteriak pada para pengawal untuk menangkap peri air yang membawa kecapinya. Ayahandanya menanyai kenapa menyuruh menangkap anak Raja Bawah. Kebingungan saat ditanya, dia berkata bahwa Putri Tiana membawa kecapinya. Kecapi itu disita.

Karena tidak enak akan mengadakan sidang malam-malam, Raja Atas memutuskan untuk menggelar sidang di pagi hari.  Raja Atas mempersilakan keluarga Raja Bawah untuk beristirahat di kamar yang sudah disiapkan. Sedangkan Putri Tiana diberi kamar tersendiri yang dijaga oleh para pengawal. Tidak disangka diam-diam Putri Lioni menyelinap ke kamarnya bersama para dayang.

Di sana dia melamar Putri Tiana. Tidak suka dengan cara si putri, Putri Tiana menolak. Ia tidak suka dengan calon pengantin yang pengecut, manja, dan licik. Putri Lioni patah hati demi mendengar itu. Dia meninggalkan Putri Tiana si Peri Air. Dia menyesal menuduh Putri Tiana di depan orang banyak. Seorang dayang menyerahkan kecapi baru pada Putri Tiana. Esoknya Putri Tiana dibebaskan. Kata Putri Lioni kepada Raja Atas, mereka sudah berdamai.

Sepeninggal Putri Tiana sekeluarganya, Putri Lioni kasmaran. Wajah pujaan hatinya membayang terus menerus. Kemudian dia merencanakan sebuah pelarian. Hal itu diketahui oleh kedua saudaranya. Pangeran Duera dan Putri Triana. Mereka iba dan salut dengan kemauan adiknya.

Pangeran memberinya Pedang Pemanggil Naga dan menyuruhnya mengikuti jalur sungai, dan hanya percaya pada sungai untuk mencari Peri Air. Putri Triana memberinya Seruling Pemanggil Hujan. Guru Olah Kanuragan mereka meminjamkan kuda tercepat, Blast. Kuda yang tahu rute jalan pintas ke Kerajaan Bawah, Rute Marabahaya, yang tak pernah dilalui orang kecuali yang sakti dan pemberani.

Putri Lioni pergi seorang diri bersama Blast. Memakai baju pengembara yang sederhana. Mukanya bercadar untuk menghindari pengawal Kerajaan Atas yang mungkin akan mencarinya. Blast menjauhi Jalan Utama, ke pinggir bukit, mengikuti sungai. Menuju Pegunungan Batu.

Melewati pinggir hutan, Pengembara Bercadar diserang Raja Monyet Vampire dan anak buahnya. Gerombolan tersebut ingin menghisap darah dan memakannya. Pengembara Bercadar dengan pedangnya sendiri menebas mereka. Pertarungan semakin masuk ke dalam hutan. Ketika melawan Raja Monyet Vampire, betisnya robek, tetapi dia berhasil menusuk siku si Raja Monyet Vampire. Begitu Raja Monyet Vampire sibuk kesakitan, Pengembara Bercadar dan Blast mengambil kesempatan. Blast menandak, dan si pengembara itu menebas sarang lebah, kemudian Blast lari menghindar. Membiarkan Raja Monyet Vampire dan anak buahnya disengat pasukan lebah.

Blast terus berlari, Pengembara Bercadar mencoba mencari arah mata air, sambil dikejar beberapa Monyet Vampire. Akhirnya mereka berdua keluar dari hutan untuk selanjutnya melesat ke selatan.Setelah jauh, Pengembara Bercadar berhenti untuk membebat lukanya dan sedikit makan siang.Seusai beristirahat, pengembara tersebut melanjutkan perjalanan.

Tiba di kumpulan batu-batu raksasa, suasana seakan mati atau melambat. Hati semakin tak sejuk. Mereka masuk ke celah Gunung Batu. Seakan memasuki dimensi lain. Sekonyong-konyong Blast meringkik tatkala sebuah batu besar pecah dan muncul Minotaur. Buru-buru Pengembara Bercadar mengambil pedangnya. Godam raksasa dan pedang saling beradu, sayang benturan godam membuat Pengembara Bercadar dari Kerajaan Atas itu oleng dan terlempar.

Dahi Blast mengeluarkan tanduk. Kuda itu menyerang Minatour. Pengembara Bercadar bangkit dan meraih pedangnya. Berdua bahu membahu menghajar Minatour. Si Minatour mengamuk, menangkap Blast, melemparnya. Pengembara Bercadar mengayunkan pedang, dengan lengannya, Minatour menyikutnya. Minatour berbalik kearah Blast untuk menginjaknya.

Karena pedangnya patah, dia mengeluarkan Pedang Pemanggil Naga. Dengan sisa tenaganya ia menusuk punggung Minatour. “Naga!Aku memanggilmu!” terdengar suara petir. Naga datang menyemburkan apinya. Pengembara Bercadar berlari ke arah Blast, menguatkannya.Dia naik ke punggung Blast, menuju arah lain celah Gunung Batu. Membiarkan pertarungan Naga dan Minatour. Angin sepoi menyambut.Lelah dan compang-camping Pengembara Bercadar tertidur.

Pengembara Bercadar tiba di pemukiman penduduk, di luar benteng Kerajaan Bawah. Seorang warga menampungnya bermalam. Di sana pun ada serombongan pengembara. Mereka memuji keberaniannya mengarungi Jalur Marabahaya. Esoknya dia dan ke-5 pengembara masuk ke pemukiman kerajaan. Mencari bangunan istana yang berada tepat di tengah rumah penduduk.

Mereka bekerja di ladang petani di samping sayap kiri istana. Dua hari dia bekerja di sana, dan ayahandanya sudah membentuk Pasukan Pencari yang menyebar ke penjuru kerajaan-kerajaan. Keluarga Putri Tiana akhirnya tiba di istana. Konon katanya putri ini gemar bermain di sungai kecil di luar sayap kiri benteng istana. Bermain bersama para dayang dan senang menghibur para petani dengan permainan kecapinya.Selama dua hari di istana, Putri Tiana tidak tenang, pikirannya melayang. Mungkin kasmaran kepada siapa?

Diputuskanlah untuk pergi ke sungai. Pengembara Bercadar mengamatinya dari jauh. Perasaan bercampur senang dan cemas. Memakai sedikit tabungan hasil upah dari petani, dia pergi ke pasar membeli buah. Buah-buahan itu ia berikan ke Putri Tiana, yang merasa pernah melihatnya. Kemudian Putri Tiana bermain kecapi, para dayang mempersilakan penduduk yang ada di sekitar situ untuk mendekat.
Pengembara Bercadar pun menyaksikannya bersama ke-5 pengembara. Manakala tiba waktunya Putri Tiana pulang, seorang pengembara memberinya bungkusan yang ternyata kecapi yang putus senarnya. Kini senarnya telah utuh. Siapa gerangan yang menyampaikan itu. Kata Pengembara Pesuruh, seorang pengembara bercadarlah yang memberi.

Putri Tiana berlari ke arah tenda para pengembara diikuti pengawal dan dayang istana. Tiba di tenda si Pengembara Bercadar, dia menarik cadar itu, meski penuh luka-luka, ia masih mengenali wajah itu. Dia menyuruh Putri Lioni pergi dan tetap menolak lamaran. Habis itu Putri Tiana pergi dari tenda. Putri Lioni memainkan serulingnya dan Putri Tiana berhenti berlari, turunlah hujan lebat.Para pengawal, dayang, pengembara, serta petani berlarian mencari tempat berteduh.

Putri Lioni menarik Putri Tiana ke dalam tenda.Berusaha meyakinkan Putri Tiana. Putri Tiana justru menyuruh Putri Lioni mandi dan menantangnya pergi ke istana menemui ayah dan bundanya. Dia mencium telapak tangan Putri Lioni yang kapalan itu. Putri Tiana segera keluar membiarkan Putri Lioni termangu. Hujan reda. Dia menyeberangi jembatan di atas parit yang  mengelilingi benteng istana.
Pengembara Bercadar sadar dari transnya. Dia dan ke-5 pengembara mengejar dan bertarung dengan pengawal istana. Putri Tiana mendorong Pengembara Bercadar ke parit dan tertutuplah pintu sayap kiri istana.

Pengembara Bercadar basah kuyub, menghunus Pedang Pemanggil Naga. Naga muncul membawanya terbang melewati benteng istana.I a menyuruh naga menyemburkan air menghalau hujan anak panah dari para prajurit. Pedangnya ikut menghalau. Tanah yang terkena air naga menjadi subur. Mendekati bangunan utama istana, di atas kolam, seseorang membidiknya.

Anak panah pembius mengenai kakinya, ia jatuh pingsan, tercebur di kolam. Putri Tiana si pemanah, berlari menceburkan diri ke kolam. Menolong Putri Lioni. Tahu-tahu Putri Lioniada di bangsal, di tengah Raja Bawah, para pejabat istana dan Putri Tiana.

Dia dijadikan bulan-bulanan. Pekerjaannya yang hanya sebagai buruh tani diolok-olok. Bahkan Raja Bawah mendendam sikapnya yang menuduh Putri Tiana. Dia kini menawan Putri Lioni dan Pasukan Pencari yang sudah tiba di situ. Dikirimnya surat lewat merpati untuk Raja Atas. Berisi tantangan perang.

Putri Lioni khawatir terjadi kekalahan pada Kerajaan Bawah. Dia pun menyatakan mundur dari usaha pinangan dan berniat pergi dari situ demi menghindari pertumpahaan darah. Terlambat. Putri Tiana telah menyuruh pengawal menutup mata Putri Lioni dengan cadarnya, diseret ke penjara.

Runtuh hatinya akan sikap Peri Air yang dicintainya itu. Lama digiring, ia didudukkan ketempat empuk dan ruangan beraroma terapi. Penutup matanya dilepas. Ternyata dia di kamar Putri Tiana. Para dayang dan Putri Tiana mencopoti pakaian Putri Lioni. Katanya calon istrinya perlu mandi. Ternyata Putri Tiana dan penghuni istana mengerjainya. Surat yang dikirim adalah penerimaan pinangan. Pasukan khusus pencaripun sedang dijamu oleh raja dan para pejabat.

Selang empat hari kemudian keluarga Raja Atas datang. Mereka mengadakan perta kecil, Pangeran Duera mendekati Putri Lioni berkata jika Pedang Pemanggil Naga diberikan padanya sebab pedang itu suka dengan manusia ulet, dan pekerja keras. Putri Triana hadir pula disana dan menyuruh Putri Lioni menyimpan serulingnya sebagai hadiah pernikahan. Serulingpun menyukai Putri Lioni karena cintanya pada Putri Tiana amat kuat dan dia mau berkorban. Adapun Blast, sikuda tercepat kembali ke istana Raja atas. Putri Lioni dan Putri Tiana bersama mengolah ladang kecilnya. Mereka berdua mengarungi hidup bersama.
Pesan moral :
  1. Jangan memfitnah karena ada ganjarannya seperti Putri Lioni yang terpaksa menempuh perjalanan marabahaya
  2. Kegigihan dan kerja keras itu perlu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar