Konon katanya, pada jaman dahulu, kulit buah rambutan tidak memiliki
serabut. Kulit buahnya polos. Apa yang membuatnya berambut? Demikian
kisahnya. Di sebuah kerajaan kecil, terdapat Kuil Dewata. Di sana tumbuh
pohon dengan buah-buah berwarna merah dan kuning. Pohon itu dijaga oleh
pengawal kuil.
Pangeran Panggang yang pemberani datang dari jauh demi memetik buah tersebut.
Katanya buah tersebut adalah Buah Cinta, Buah
Terlarang. Buah yang membuat Adam dan Eva terusir dari surga.
Maka tibalah Putri Lioni di kuil. Dia disambut oleh Kepala Kuil. Biksuni
Tiana. Biksuni ini telah melihat kedatangannya dari Cermin Ajaib.
"Silakan masuk, Pangeran Panggang. Apa yang membuat Anda berkenan datang ke
kuil kecil ini? Bukankah Kerajaan Atas memiliki Kuil Pemujaan yang
Agung?" Biksuni Kemusuk mempersilakan dari balik cadarnya. Dari mana
Biksuni ini tahu asal-usulnya, batin Pangeran Panggang. Namun ia segera sadar
dengan siapa ia berhadapan. Biksuni yang terkenal dengan magisnya. "Saya
hanya ingin singgah melepas penat di kuil ini," ujar Pangeran.
"Silakan, Pangeran, Kuil Dewata ini memang rumah bagi kanak-kanaknya."
Setelah Pangeran membakar pedupaan di altar, ia mengamati pohon buah terlarang. Malam akan segera tiba, dan aku, Pangeran Panggang akan mengambil buah itu. Dengan pedang ini, aku akan menaklukkan sihir mereka.
Malam yang dijanjikan pun tiba. Terjadilah kegemparan tatkala Pangeran Panggang mengambil buah terlarang itu. Pengawal kuil tak mampu melawan kemahiran berpedang Kerajaan Atas. "Lekas hubungi istana!" perintah Biksuni Kemusuk. Lalu pos-pos penjagaan ramailah oleh lonceng-lonceng. Para pengawal bermunculan dari sudut-sudut jalan. Mereka mengejar pencuri yang tidak mampu mereka tandingi. Biksuni Kemusuk menyaksikan itu semua dari Cermin Ajaib. Ia menjentikkan jari dan gerbang kerajaan tertutup. Celaka, gerbang tertutup, batin Pangeran Panggang. Dia segera melompat ke dinding kerajaan.
Setelah Pangeran membakar pedupaan di altar, ia mengamati pohon buah terlarang. Malam akan segera tiba, dan aku, Pangeran Panggang akan mengambil buah itu. Dengan pedang ini, aku akan menaklukkan sihir mereka.
Malam yang dijanjikan pun tiba. Terjadilah kegemparan tatkala Pangeran Panggang mengambil buah terlarang itu. Pengawal kuil tak mampu melawan kemahiran berpedang Kerajaan Atas. "Lekas hubungi istana!" perintah Biksuni Kemusuk. Lalu pos-pos penjagaan ramailah oleh lonceng-lonceng. Para pengawal bermunculan dari sudut-sudut jalan. Mereka mengejar pencuri yang tidak mampu mereka tandingi. Biksuni Kemusuk menyaksikan itu semua dari Cermin Ajaib. Ia menjentikkan jari dan gerbang kerajaan tertutup. Celaka, gerbang tertutup, batin Pangeran Panggang. Dia segera melompat ke dinding kerajaan.
Jreeb..
"Arrgh..." Beberapa anak panah menembus baju zirah Sang Pangeran, membuatnya limbung. Dia menebas anak panah di perutnya. Ia segera melompat keluar. Menghambur ke kegelapan malam. Jauh di sana, di kuil, Sang Biksuni mencabut rambutnya, lalu dilempar ke arah cermin, yang segera menghilang.
Pangeran Panggang terjatuh di bawah pohon. "Panah ini bercaun," keluhnya. Dari sakunya, buah terlarang itu menampakkan keanehan. Mulailah tumbuh berhelai-helai rambut dari kulitnya. Memanjang keluar saku, terus memanjang, meliliti tubuh Pangeran Panggang. "Ada apa ini!?" Pangeran mengerahkan kesaktiannya. Kutuk biksu menimpanya. Baju zirah bahkan tertembus oleh sulur-sulur rambut. "Tolong!" lolongnya panik.
Bless...
Dari balik kabut, muncul Biksu Kemusuk. "Apa Anda sudah kapok, Pangeran Panggang?" tawa Biksuni Kemusuk. "Tolong bebaskan saya. Saya hanya ingin mencoba Buah Terlarang ini," pinta Pangeran Panggang. "Buah Terlarang?" ulang biksuni dengan geli. "Ya, kuil kalian memiliki buah dari surga. Saya ingin menemukan cinta saya," jelas Pangeran Panggang.
"Dasar Pangeran bodoh, itu bukan Buah Terlarang yang Anda maksud. Itu memang buah berharga, salah satu di antara Buah Vitamin, bagus bagi kesehatan tubuh," olok Biksuni Kemusuk. Ia melepas cadarnya dan mengibaskan kearah sulur-sulur rambut. Ajaib, sulu-sulur itu lambat laun semakin pendek. Kantuk yang tadi menyerang pun sirna.
Ia terpukau, seakan baru bangun dari tidur. Biksuni Kemusuk berjongkok di depannya. "Nah, sekarang saya kan mengambil buah terlarang itu." Biksuni Kemusuk mengambil buah-buah itu. "Saya sangka Anda sudah tua," ujar Pangeran Panggang. "Anda terlalu cepat menyimpulkan. Saya adalah Putri Kemusuk yang sejak kecil tinggal di Kuil Dewata. Nenek saya, kepala kuil, menunjuk saya untuk menggantikannya, sebelum beliau wafat. Sebenarnya saya akan memberikan buah ini seandainya Anda meminta baik-baik."
"Anda pasti hebat dengan sihir Anda. Maaf, saya terlalu sombong dan meremehkan." Pangeran Panggang tertunduk malu. "Oh, tidak, ini berkat Dewata. Lihat, ilmu saya belum sempurna. Masih ada sisa-sisa rambut pada kulit buah ini." Rambut itu pun menjadi serabut pada kulit buah. "Kita dapat menamainya buah rambutan," cetus Sang Pangeran.
"Anda tahu, buah tomatlah buah terlarang itu. Sekarang masihkah Pangeran hendak mencari Buah Cinta?" tanya Biksuni. "Tidak," tukas Pangeran kuat-kuat. "Mengapa, Pangeran?" tanya Biksuni Kemusuk sekali lagi. "Saya baru saja jatuh cinta," bisik Sang Pangeran sambil mengecup dahi si Biksuni. "Anda memang pangeran yang pemberani. Mari, belajarlah di kuil saya sebagai hukuman Anda membuat kekacauan," ajak Biksuni Kemusuk. "Dengan senang hati, tetapi bagai mana dengan perasaan saya?" usik Pangeran Panggang. "Itu akan saya pikirkan nanti. Cobalah buah ini," tawa Biksuni Kemusuk. Pangeran Panggang memakannya dari tangan biksuni. "Buah ini manis seperti Anda, Biksuni Kemusuk," puji Pangeran Panggang.
Kemudian Sang Pangeran Panggang menjadi murid Biksuni Kemusuk dan mereka berdua hidup bersama hingga tua. Ada pun buah vitamin di kuil berubah menjadi buah rambutan. Buah ajaib ini mengandung setidaknya vitamin C, A, serta B. Buah yang baik bagi kesehatan. Tidak kalah berkhasiat dari buah tomat.
13-11-2013
"Arrgh..." Beberapa anak panah menembus baju zirah Sang Pangeran, membuatnya limbung. Dia menebas anak panah di perutnya. Ia segera melompat keluar. Menghambur ke kegelapan malam. Jauh di sana, di kuil, Sang Biksuni mencabut rambutnya, lalu dilempar ke arah cermin, yang segera menghilang.
Pangeran Panggang terjatuh di bawah pohon. "Panah ini bercaun," keluhnya. Dari sakunya, buah terlarang itu menampakkan keanehan. Mulailah tumbuh berhelai-helai rambut dari kulitnya. Memanjang keluar saku, terus memanjang, meliliti tubuh Pangeran Panggang. "Ada apa ini!?" Pangeran mengerahkan kesaktiannya. Kutuk biksu menimpanya. Baju zirah bahkan tertembus oleh sulur-sulur rambut. "Tolong!" lolongnya panik.
Bless...
Dari balik kabut, muncul Biksu Kemusuk. "Apa Anda sudah kapok, Pangeran Panggang?" tawa Biksuni Kemusuk. "Tolong bebaskan saya. Saya hanya ingin mencoba Buah Terlarang ini," pinta Pangeran Panggang. "Buah Terlarang?" ulang biksuni dengan geli. "Ya, kuil kalian memiliki buah dari surga. Saya ingin menemukan cinta saya," jelas Pangeran Panggang.
"Dasar Pangeran bodoh, itu bukan Buah Terlarang yang Anda maksud. Itu memang buah berharga, salah satu di antara Buah Vitamin, bagus bagi kesehatan tubuh," olok Biksuni Kemusuk. Ia melepas cadarnya dan mengibaskan kearah sulur-sulur rambut. Ajaib, sulu-sulur itu lambat laun semakin pendek. Kantuk yang tadi menyerang pun sirna.
Ia terpukau, seakan baru bangun dari tidur. Biksuni Kemusuk berjongkok di depannya. "Nah, sekarang saya kan mengambil buah terlarang itu." Biksuni Kemusuk mengambil buah-buah itu. "Saya sangka Anda sudah tua," ujar Pangeran Panggang. "Anda terlalu cepat menyimpulkan. Saya adalah Putri Kemusuk yang sejak kecil tinggal di Kuil Dewata. Nenek saya, kepala kuil, menunjuk saya untuk menggantikannya, sebelum beliau wafat. Sebenarnya saya akan memberikan buah ini seandainya Anda meminta baik-baik."
"Anda pasti hebat dengan sihir Anda. Maaf, saya terlalu sombong dan meremehkan." Pangeran Panggang tertunduk malu. "Oh, tidak, ini berkat Dewata. Lihat, ilmu saya belum sempurna. Masih ada sisa-sisa rambut pada kulit buah ini." Rambut itu pun menjadi serabut pada kulit buah. "Kita dapat menamainya buah rambutan," cetus Sang Pangeran.
"Anda tahu, buah tomatlah buah terlarang itu. Sekarang masihkah Pangeran hendak mencari Buah Cinta?" tanya Biksuni. "Tidak," tukas Pangeran kuat-kuat. "Mengapa, Pangeran?" tanya Biksuni Kemusuk sekali lagi. "Saya baru saja jatuh cinta," bisik Sang Pangeran sambil mengecup dahi si Biksuni. "Anda memang pangeran yang pemberani. Mari, belajarlah di kuil saya sebagai hukuman Anda membuat kekacauan," ajak Biksuni Kemusuk. "Dengan senang hati, tetapi bagai mana dengan perasaan saya?" usik Pangeran Panggang. "Itu akan saya pikirkan nanti. Cobalah buah ini," tawa Biksuni Kemusuk. Pangeran Panggang memakannya dari tangan biksuni. "Buah ini manis seperti Anda, Biksuni Kemusuk," puji Pangeran Panggang.
Kemudian Sang Pangeran Panggang menjadi murid Biksuni Kemusuk dan mereka berdua hidup bersama hingga tua. Ada pun buah vitamin di kuil berubah menjadi buah rambutan. Buah ajaib ini mengandung setidaknya vitamin C, A, serta B. Buah yang baik bagi kesehatan. Tidak kalah berkhasiat dari buah tomat.
13-11-2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar